Minggu, 03 Mei 2020

Teori Perkembangan Manusia

KATA PENGANTAR 

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam yang telah melimpahkan taufiq, hidayah, serta inayahnya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Makalah ini disusun agar dapat memperluas ilmu tentang Teori Perkembangan Manusia. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang luas bagi pembaca dan penulis 

Kami berharap makalah ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya. Dan kami menyadari masih terdapat banyak kekurangan dari makalah ini, maka dari itu kami mengharapkan banyak kritik serta saran agar kami dapat memperbaikinya dimasa yang akan datang.

                                                                                          Bojonegoro, 7 februari 2020





                                   DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR  

DAFTAR ISI 

BAB I 

PENDAHULUAN 

A.  Latar Belakang 

B.  Rumusan Masalah 

C.  Tujuan 

BAB II 

PEMBAHASAN 

A.  Teori Perkembangan Freud

B.  Teori Perkembangan Erikson

C.  Teori Perkembangan Kognitif Piaget

BAB III 

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

   BAB I 

  PENDAHULUAN



A. Latar Belakang



Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari perkembangan grafik kehidupan jasmaniah maupun rohaniah ataupun kejiawaan manusia dari semenjak lahir, anak-anak, remaja, dewasa hingga tua, dimana pada setiap pase memilik ciri-ciri khas tersendiri.



Psikologi pekembangan memegang peranan penting dalam membahas psikolologi kriminil. Ilmu pengetahuan ini merapakan salah satu ilmu pembantu utama dari lingkungan psikologi sehubungan dengan pembahasan psikologi kriminil.

Dengan mendalami psikologi perkembangan maka defiasi-defiasi tingkah laku manusia dapat dicegah. Karena itulah psikologi perkembangan merupakan salah satu dasar utama mengatur pembahasan sikologi kriminil.

Mempelajai dan memahami tingkah laku manusia atau individu yang sadar tidak mungkin tanpa mempelajari kehidupan bawah sadar dan tidak sadar. Menurut psikologi dalam kesadaran adalah suatu kualitas psikis saja. Sedangkan psikis itu mempunyai kualitas-kuaitas sadar, bawah sadar dan tak sadar. Karena itu dalam mempelajari individu ataupun manusia sosial maupun kriminil masalah struktur personality manusia mempunyai kaitan yang erat dengan tingkah laku manusia secara keseluruhan.

Menurut penelitian ternyata bahwa manusia itu mengalami grafik kehidupan jasmaniah maupun rohaniah ataupun kejiwaan maksudya dalam usia muda ataupun sejak usia kelahiran sampai usia tua dan setiap waktu usia tertentu, terjadi perobahan-perobahan hidup yang mempunyai ciri-ciri khas tersendiri.

B. Rumusan Masalah

1. Apa saja tahap perkembangan psikoseksual menurut freud ?
2. Perkembangan apa saja yang dilalui menurut Erikson ?
3. Apa Teori Perkembangan Kognitif Piaget ?

C. Tujuan

1. Mengetahui tahap perkembangan psikoseksual menurut freud
2. Mengetahui Perkembangan apa saja yang dilalui menurut Erikson
3. Mengetahui Teori Perkembangan Kognitif Piaget 


BAB II PEMBAHASAN 

A. Teori Perkembangan Freud

Tahap Perkembangan Psikoseksual Sigmund Freud

Teori perkembangan psikoseksual Sigmund Freudadalah salah satu teori yang paling terkenal, akan tetapi juga salah satu teori yang paling kontroversial. Freud percaya kepribadian yang berkembang melalui serangkaian tahapan masa kanak-kanak di mana mencari kesenangan-energi dari id menjadi fokus pada area sensitif seksual tertentu. Energi psikoseksual, atau libido , digambarkan sebagai kekuatan pendorong di belakang perilaku.

Menurut Sigmund Freud, kepribadian sebagian besar dibentuk oleh usia lima tahun. Awal perkembangan berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian dan terus mempengaruhi perilaku di kemudian hari.

Jika tahap-tahap psikoseksual selesai dengan sukses, hasilnya adalah kepribadian yang sehat. Jika masalah tertentu tidak diselesaikan pada tahap yang tepat, fiksasi dapat terjadi. fiksasi adalah fokus yang gigih pada tahap awal psikoseksual. Sampai konflik ini diselesaikan, individu akan tetap “terjebak” dalam tahap ini. Misalnya, seseorang yang terpaku pada tahap oral mungkin terlalu bergantung pada orang lain dan dapat mencari rangsangan oral melalui merokok, minum, atau makan.

Tahap Perkembangan Psikoseksual Sigmund Freud

1.Fase Oral

Pada tahap oral, sumber utama bayi interaksi terjadi melalui mulut, sehingga perakaran dan refleks mengisap adalah sangat penting. Mulut sangat penting untuk makan, dan bayi berasal kesenangan dari rangsangan oral melalui kegiatan memuaskan seperti mencicipi dan mengisap. Karena bayi sepenuhnya tergantung pada pengasuh (yang bertanggung jawab untuk memberi makan anak), bayi juga mengembangkan rasa kepercayaan dan kenyamanan melalui stimulasi oral.

Konflik utama pada tahap ini adalah proses penyapihan, anak harus menjadi kurang bergantung pada para pengasuh. Jika fiksasi terjadi pada tahap ini, Freud percaya individu akan memiliki masalah dengan ketergantungan atau agresi. fiksasi oral dapat mengakibatkan masalah dengan minum, merokok makan, atau menggigit kuku.

2.Fase Anal

Pada tahap anal, Freud percaya bahwa fokus utama dari libido adalah pada pengendalian kandung kemih dan buang air besar. Konflik utama pada tahap ini adalah pelatihan toilet – anak harus belajar untuk mengendalikan kebutuhan tubuhnya. Mengembangkan kontrol ini menyebabkan rasa prestasi dan kemandirian.

Menurut Sigmund Freud, keberhasilan pada tahap ini tergantung pada cara di mana orang tua pendekatan pelatihan toilet. Orang tua yang memanfaatkan pujian dan penghargaan untuk menggunakan toilet pada saat yang tepat mendorong hasil positif dan membantu anak-anak merasa mampu dan produktif. Freud percaya bahwa pengalaman positif selama tahap ini menjabat sebagai dasar orang untuk menjadi orang dewasa yang kompeten, produktif dan kreatif.

Namun, tidak semua orang tua memberikan dukungan dan dorongan bahwa anak-anak perlukan selama tahap ini. Beberapa orang tua ‘bukan menghukum, mengejek atau malu seorang anak untuk kecelakaan. Menurut Freud, respon orangtua tidak sesuai dapat mengakibatkan hasil negatif. Jika orangtua mengambil pendekatan yang terlalu longgar, Freud menyarankan bahwa-yg mengusir kepribadian dubur dapat berkembang di mana individu memiliki, boros atau merusak kepribadian berantakan. Jika orang tua terlalu ketat atau mulai toilet training terlalu dini, Freud percaya bahwa kepribadian kuat-analberkembang di mana individu tersebut ketat, tertib, kaku dan obsesif.

3. Fase Phalic

Pada tahap phallic , fokus utama dari libido adalah pada alat kelamin. Anak-anak juga menemukan perbedaan antara pria dan wanita. Freud juga percaya bahwa anak laki-laki mulai melihat ayah mereka sebagai saingan untuk ibu kasih sayang itu. Kompleks Oedipusmenggambarkan perasaan ini ingin memiliki ibu dan keinginan untuk menggantikan ayah.Namun, anak juga kekhawatiran bahwa ia akan dihukum oleh ayah untuk perasaan ini, takut Freud disebut pengebirian kecemasan.

Istilah Electra kompleks telah digunakan untuk menggambarkan satu set sama perasaan yang dialami oleh gadis-gadis muda. Freud, bagaimanapun, percaya bahwa gadis-gadis bukan iri pengalaman penis.

Akhirnya, anak menyadari mulai mengidentifikasi dengan induk yang sama-seks sebagai alat vicariously memiliki orang tua lainnya. Untuk anak perempuan, Namun, Freud percaya bahwa penis iri tidak pernah sepenuhnya terselesaikan dan bahwa semua wanita tetap agak terpaku pada tahap ini. Psikolog seperti Karen Horney sengketa teori ini, menyebutnya baik tidak akurat dan merendahkan perempuan.



4.Fase Latent

Periode laten adalah saat eksplorasi di mana energi seksual tetap ada, tetapi diarahkan ke daerah lain seperti pengejaran intelektual dan interaksi sosial. Tahap ini sangat penting dalam pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi dan kepercayaan diri.
Freud menggambarkan fase latens sebagai salah satu yang relatif stabil. Tidak ada organisasi baru seksualitas berkembang, dan dia tidak membayar banyak perhatian untuk itu. Untuk alasan ini, fase ini tidak selalu disebutkan dalam deskripsi teori sebagai salah satu tahap, tetapi sebagai suatu periode terpisah.



5.Fase Genital

Pada tahap akhir perkembangan psikoseksual, individu mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis. Dimana dalam tahap-tahap awal fokus hanya pada kebutuhan individu, kepentingan kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap ini. Jika tahap lainnya telah selesai dengan sukses, individu sekarang harus seimbang, hangat dan peduli. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan keseimbangan antara berbagai bidang kehidupan.

B. Teori Perkembangan Erikson

Delapan tahap/fase perkembangan kepribadian menurut Erikson memiliki ciri utama setiap tahapnya adalah di satu pihak bersifat biologis dan di lain pihak bersifat sosial, yang berjalan melalui krisis diantara dua polaritas. Adapun tingkatan dalam delapan tahap perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia menurut Erikson adalah sebagai berikut :

1.      Trust vs Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan)

Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing, tempat asing, suara asing, perlakuan asing dan sebagainya. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis.
Tahap ini berlangsung pada masa oral, kira-kira terjadi pada umur 0-1 atau 1 ½ tahun. Tugas yang harus dijalani pada tahap ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk hadirnya suatu ketidakpercayaan. 
Kepercayaan ini akan terbina dengan baik apabila dorongan oralis pada bayi terpuaskan, misalnya untuk tidur dengan tenang, menyantap makanan dengan nyaman dan tepat waktu, 

serta dapat membuang kotoron (eliminsi) dengan sepuasnya. Oleh sebab itu, pada tahap ini ibu memiliki peranan yang secara kwalitatif sangat menentukan perkembangan kepribadian anaknya yang masih kecil. Apabila seorang ibu bisa memberikan rasa hangat dan dekat, konsistensi dan kontinuitas kepada bayi mereka, maka bayi itu akan mengembangkan perasaan dengan menganggap dunia khususnya dunia sosial sebagai suatu tempat yang aman untuk didiami, bahwa orang-orang yang ada didalamnya dapat dipercaya dan saling menyayangi. Kepuasaan yang dirasakan oleh seorang bayi terhadap sikap yang diberikan oleh ibunya akan menimbulkan rasa aman, dicintai, dan terlindungi. Melalui pengalaman dengan orang dewasa tersebut bayi belajar untuk mengantungkan diri dan percaya kepada mereka. Hasil dari adanya kepercayaan berupa kemampuan mempercayai lingkungan dan dirinya serta juga mempercayai kapasitas tubuhnya dalam berespon secara tepat terhadap lingkungannya.
Sebaliknya, jika seorang ibu tidak dapat memberikan kepuasan kepada bayinya, dan tidak dapat memberikan rasa hangat dan nyaman atau jika ada hal-hal lain yang membuat ibunya berpaling dari kebutuhan-kebutuhannya demi memenuhi keinginan mereka sendiri, maka bayi akan lebih mengembangkan rasa tidak percaya, dan dia akan selalu curiga kepada orang lain.

Hal ini jangan dipahami bahwa peran sebagai orangtua harus serba sempurna tanpa ada kesalahan/cacat. Karena orangtua yang terlalu melindungi anaknya pun akan menyebabkan anak punya kecenderungan maladaptif. Erikson menyebut hal ini dengan sebutan salah penyesuaian indrawi. Orang yang selalu percaya tidak akan pernah mempunyai pemikiran maupun anggapan bahwa orang lain akan berbuat jahat padanya, dan akan menggunakan seluruh upayanya dalam mempertahankan cara pandang seperti ini. Dengan kata lain, mereka akan mudah tertipu atau dibohongi. Sebaliknya, hal terburuk dapat terjadi apabila pada masa kecilnya sudah merasakan ketidakpuasan yang dapat mengarah pada ketidakpercayaan. Mereka akan berkembang pada arah kecurigaan dan merasa terancam terus menerus. Hal ini ditandai dengan munculnya frustasi, marah, sinis, maupun depresi.

Pada dasarnya setiap manusia pada tahap ini tidak dapat menghindari rasa kepuasan namun juga rasa ketidakpuasan yang dapat menumbuhkan kepercayaan dan ketidakpercayaan. Akan tetapi, hal inilah yang akan menjadi dasar kemampuan seseorang pada akhirnya untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik. Di mana setiap individu perlu mengetahui dan membedakan kapan harus percaya dan kapan harus tidak percaya dalam menghadapi berbagai tantangan maupun rintangan yang menghadang pada perputaran roda kehidupan manusia tiap saat.

2.      Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu

Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame, doubt. Pada masa ini sampai batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan, bermain, minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi di pihak lain dia telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.

Pada tahap kedua adalah tahap anus-otot (anal-mascular stages), masa ini biasanya disebut masa balita yang berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai 3 atau 4 tahun. Tugas yang harus diselesaikan pada masa ini adalah kemandirian (otonomi) sekaligus dapat memperkecil perasaan malu dan ragu-ragu. Apabila dalam menjalin suatu relasi antara anak dan orangtuanya terdapat suatu sikap/tindakan yang baik, maka dapat menghasilkan suatu kemandirian. Namun, sebaliknya jika orang tua dalam mengasuh anaknya bersikap salah, maka anak dalam perkembangannya akan mengalami sikap malu dan ragu-ragu. Dengan kata lain, ketika orang tua dalam mengasuh anaknya sangat memperhatikan anaknya dalam aspek-aspek tertentu misalnya mengizinkan seorang anak yang menginjak usia balita untuk dapat mengeksplorasikan dan mengubah lingkungannya, anak tersebut akan bisa mengembangkan rasa mandiri atau ketidaktergantungan. Pada usia ini menurut Erikson bayi mulai belajar untuk mengontrol tubuhnya, sehingga melalui masa ini akan nampak suatu usaha atau perjuangan anak terhadap pengalaman-pengalaman  baru yang berorientasi pada suatu tindakan/kegiatan  yang dapat menyebabkan adanya sikap untuk mengontrol diri sendiri dan juga untuk menerima control dari orang lain. Misalnya, saat anak belajar berjalan, memegang tangan orang lain, memeluk, maupun untuk menyentuh benda-benda lain.
Di lain pihak, anak dalam perkembangannya pun dapat menjadi pemalu dan ragu-ragu. Jikalau orang tua terlalu membatasi ruang gerak/eksplorasi lingkungan dan kemandirian, sehingga anak akan mudah menyerah karena menganggap dirinya tidak mampu atau tidak seharusnya bertindak sendirian.

Orang tua dalam mengasuh anak pada usia ini tidak perlu mengobarkan keberanian anak dan tidak pula harus mematikannya. Dengan kata lain, keseimbanganlah yang diperlukan di sini. Ada sebuah kalimat yang seringkali menjadi teguran maupun nasihat bagi orang tua dalam mengasuh anaknya yakni “tegas namun toleran”. Makna dalam kalimat tersebut ternyata benar adanya, karena dengan cara ini anak akan bisa mengembangkan sikap kontrol diri dan harga diri. Sedikit rasa malu dan ragu-ragu, sangat diperlukan bahkan memiliki fungsi atau kegunaan tersendiri bagi anak, karena tanpa adanya perasaan ini, anak akan berkembang ke arah sikap maladaptif yang disebut Erikson sebagai impulsiveness (terlalu menuruti kata hati), 
sebaliknya apabila seorang anak selalu memiliki perasaan malu dan ragu-ragu juga tidak baik, karena akan membawa anak pada sikap malignansi yang disebut Erikson compulsiveness.

Sifat inilah yang akan membawa anak selalu menganggap bahwa keberadaan mereka selalu bergantung pada apa yang mereka lakukan, karena itu segala sesuatunya harus dilakukan secara sempurna. Apabila tidak dilakukan dengan sempurna maka mereka tidak dapat menghindari suatu kesalahan yang dapat menimbulkan adanya rasa malu dan ragu-ragu.
Ritualisasi yang dialami oleh anak pada tahap ini yaitu dengan adanya sifat bijaksana dan legalisme. Melalui tahap ini anak sudah dapat mengembangkan pemahamannya untuk dapat menilai mana yang salah dan mana yang benar dari setiap gerak atau perilaku orang lain yang disebut sebagai sifat bijaksana. Sedangkan, apabila dalam pola pengasuhan terdapat penyimpangan maka anak akan memiliki sikap legalisme yakni merasa puas apabila orang lain dapat dikalahkan dan dirinya berada pada pihak yang menang sehingga anak akan merasa tidak malu dan ragu-ragu walaupun pada penerapannya menurut Alwisol mengarah pada suatu sifat yang negatif yaitu tanpa ampun, dan tanpa rasa belas kasih.

3.      Inisiatif vs Kesalahan

Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat.

Tahap ketiga ini juga dikatakan sebagai tahap kelamin-lokomotor (genital-locomotor stage) atau yang biasa disebut tahap bermain. Tahap ini pada suatu periode tertentu saat anak menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun, dan tugas yang harus diemban seorang anak pada masa ini ialah untuk belajar punya gagasan (inisiatif) tanpa banyak terlalu melakukan kesalahan. Masa-masa bermain merupakan masa di mana seorang anak ingin belajar dan mampu belajar terhadap tantangan dunia luar, serta mempelajari kemampuan-kemampuan baru juga merasa memiliki tujuan. Dikarenakan sikap inisiatif merupakan usaha untuk menjadikan sesuatu yang belum nyata menjadi nyata, sehingga pada usia ini orang tua dapat mengasuh anaknya dengan cara mendorong anak untuk mewujudkan gagasan dan ide-idenya. 

Akan tetapi, semuanya akan terbalik apabila tujuan dari anak pada masa genital ini mengalami hambatan karena dapat mengembangkan suatu sifat yang berdampak kurang baik bagi dirinya yaitu merasa berdosa dan pada klimaksnya mereka seringkali akan merasa bersalah atau malah akan mengembangkan sikap menyalahkan diri sendiri atas apa yang mereka rasakan dan lakukan.

Kecenderungan atau krisis antara keduanya dapat diseimbangkan, maka akan lahir suatu kemampuan psikososial adalah tujuan (purpose). Selain itu, ritualisasi yang terjadi pada masa ini adalah masa dramatik dan impersonasi. Dramatik dalam pengertiannya dipahami sebagai suatu interaksi yang terjadi pada seorang anak dengan memakai fantasinya sendiri untuk berperan menjadi seseorang yang berani. Sedangkan impersonasi dalam pengertiannya adalah suatu fantasi yang dilakukan oleh seorang anak namun tidak berdasarkan kepribadiannya. Oleh karena itu, rangakain kata yang tepat untuk menggambarkan masa ini pada akhirnya bahwa keberanian, kemampuan untuk bertindak tidak terlepas dari kesadaran dan pemahaman mengenai keterbatasan dan kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya.



4.      Kerajinan vs Inferioritas

            Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.

                Tahap keempat ini dikatakan juga sebagai tahap laten yang terjadi pada usia sekolah dasar antara umur 6 sampai 12 tahun. Salah satu tugas yang diperlukan dalam tahap ini ialah adalah dengan mengembangkan kemampuan bekerja keras dan menghindari perasaan rasa rendah diri. Saat anak-anak berada tingkatan ini area sosialnya bertambah luas dari lingkungan keluarga merambah sampai ke sekolah, sehingga semua aspek memiliki peran, misalnya orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya, dan lain sebagainya.

                Tingkatan ini menunjukkan adanya pengembangan anak terhadap rencana yang pada awalnya hanya sebuah fantasi semata, namun berkembang seiring bertambahnya usia bahwa rencana yang ada harus dapat diwujudkan yaitu untuk dapat berhasil dalam belajar. Anak pada usia ini dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil, apakah itu di sekolah atau ditempat bermain. Melalui tuntutan tersebut anak dapat mengembangkan suatu sikap rajin. 
Berbeda kalau anak tidak dapat meraih sukses karena mereka merasa tidak mampu (inferioritas), sehingga anak juga dapat mengembangkan sikap rendah diri. Oleh sebab itu, peranan orang tua maupun guru sangatlah penting untuk memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak pada usia seperti ini. Kegagalan di bangku sekolah yang dialami oleh anak-anak pada umumnya menimpa anak-anak yang cenderung lebih banyak bermain bersama teman-teman dari pada belajar, dan hal ini tentunya tidak terlepas dari peranan orang tua maupun guru dalam mengontrol mereka.

                    Dalam lingkungan yang ada pola perilaku yang dipelajari pun berbeda dari tahap sebelumnya, anak diharapkan mampu untuk mengerjakan segala sesuatu dengan mempergunakan cara maupun metode yang standar, sehingga anak tidak terpaku pada aturan yang berlaku dan bersifat kaku. Peristiwa tersebut biasanya dikenal dengan istilah formal. Sedangkan pada pihak lain jikalau anak mampu mengerjakan segala sesuatu dengan mempergunakan cara atau metode yang sesuai dengan aturan yang ditentukan untuk memperoleh hasil yang sempurna, maka anak akan memiliki sikap kaku dan hidupnya sangat terpaku pada aturan yang berlaku. Hal inilah yang dapat menyebabkan relasi dengan orang lain menjadi terhambat. Peristiwa ini biasanya dikenal dengan istilah formalism.



5.      Identitas vs Kekacauan Identitas

Tahap kelima merupakan tahap adolesen (remaja), yang dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitasdiri ini, pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak, sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota.Pencapaian identitas pribadi dan menghindari peran ganda merupakan bagian dari tugas yang harus dilakukan dalam tahap ini. Menurut Erikson masa ini merupakan masa yang mempunyai peranan penting, karena melalui tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas ego, dalam pengertiannya identitas pribadi berarti mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara seseorang terjun ke tengah masyarakat. 

Lingkungan dalam tahap ini semakin luas tidak hanya berada dalam area keluarga, sekolah namun dengan masyarakat yang ada dalam lingkungannya. Masa pubertas terjadi pada tahap ini, kalau pada tahap sebelumnya seseorang dapat menapakinya dengan baik maka segenap identifikasi di masa kanak-kanak diintrogasikan dengan peranan sosial secara aku, sehingga pada tahap ini mereka sudah dapat melihat dan mengembangkan suatu sikap yang baik dalam segi kecocokan antara isi dan dirinya bagi orang lain, selain itu juga anak pada jenjang ini dapat merasakan bahwa mereka sudah menjadi bagian dalam kehidupan orang lain. Semuanya itu terjadi karena mereka sudah dapat menemukan siapakah dirinya. Identitas ego merupakan kulminasi nilai-nilai ego sebelumnya yang merupakan ego sintesis. Dalam arti kata yang lain pencarian identitas ego telah dijalani sejak berada dalam tahap pertama/bayi sampai seseorang berada pada tahap terakhir/tua. Oleh karena itu, salah satu point yang perlu diperhatikan yaitu apabila tahap-tahap sebelumnya berjalan kurang lancar atau tidak berlangsung secara baik, disebabkan anak tidak mengetahui dan memahami siapa dirinya yang sebenarnya ditengah-tengah pergaulan dan struktur sosialnya, inilah yang disebut dengan identity confusion atau kekacauan identitas.Akan tetapi di sisi lain jika kecenderungan identitas ego lebih kuat dibandingkan dengan kekacauan identitas, maka mereka tidak menyisakan sedikit ruang toleransi terhadap masyarakat yang bersama hidup dalam lingkungannya. Erikson menyebut maladaptif ini dengan sebutan fanatisisme. Orang yang berada dalam sifat fanatisisme ini menganggap bahwa pemikiran, cara maupun jalannyalah yang terbaik. Sebaliknya, jika kekacauan identitas lebih kuat dibandingkan dengan identitas ego maka Erikson menyebut malignansi ini dengan sebutan pengingkaran. Orang yang memiliki sifat ini mengingkari keanggotaannya di dunia orang dewasa atau masyarakat akibatnya mereka akan mencari identitas di tempat lain yang merupakan bagian dari kelompok yang menyingkir dari tuntutan sosial yang mengikat serta mau menerima dan mengakui mereka sebagai bagian dalam kelompoknya.

Kesetiaan akan diperoleh sebagi nilai positif yang dapat dipetik dalam tahap ini, jikalau antara identitas ego dan kekacauan identitas dapat berlangsung secara seimbang, yang mana kesetiaan memiliki makna tersendiri yaitu kemampuan hidup berdasarkan standar yang berlaku di tengah masyarakat terlepas dari segala kekurangan, kelemahan, dan ketidakkonsistennya.
Ritualisasi yang nampak dalam tahap adolesen ini dapat menumbuhkan ediologi dan totalisme.

6.      Keintiman vs Isolasi

Tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka setiap individu akan memasuki jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 tahun. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. Mereka sudah mulai selektif, dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya.

Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. Periode diperlihatkan dengan adanya hubungan spesial dengan orang lain yang biasanya disebut dengan istilah pacaran guna memperlihatkan dan mencapai kelekatan dan kedekatan dengan orang lain. Di mana muatan pemahaman dalam kedekatan dengan orang lain mengandung arti adanya kerja sama yang terjalin dengan orang lain. Akan tetapi, peristiwa ini akan memiliki pengaruh yang berbeda apabila seseorang dalam tahap ini tidak mempunyai kemampuan untuk menjalin relasi dengan orang lain secara baik sehingga akan tumbuh sifat merasa terisolasi. Erikson menyebut adanya kecenderungan maladaptif yang muncul dalam periode ini ialah rasa cuek, di mana seseorang sudah merasa terlalu bebas, sehingga mereka dapat berbuat sesuka hati tanpa memperdulikan dan merasa tergantung pada segala bentuk hubungan misalnya dalam hubungan dengan sahabat, tetangga, bahkan dengan orang yang kita cintai/kekasih sekalipun. Sementara dari segi lain/malignansi Erikson menyebutnya dengan keterkucilan, yaitu kecenderungan orang untuk mengisolasi/menutup diri sendiri dari cinta, persahabatan dan masyarakat, selain itu dapat juga muncul rasa benci dan dendam sebagai bentuk dari kesendirian dan kesepian yang dirasakan.

Oleh sebab itu, kecenderungan antara keintiman dan isoalasi harus berjalan dengan seimbang guna memperoleh nilai yang positif yaitu cinta. Dalam konteks teorinya, cinta berarti kemampuan untuk mengenyampingkan segala bentuk perbedaan dan keangkuhan lewat rasa saling membutuhkan. Wilayah cinta yang dimaksudkan di sini tidak hanya mencakup hubungan dengan kekasih namun juga hubungan dengan orang tua, tetangga, sahabat, dan lain-lain.

Ritualisasi yang terjadi pada tahan ini yaitu adanya afiliasi dan elitisme. Afilisiasi menunjukkan suatu sikap yang baik dengan mencerminkan sikap untuk mempertahankan cinta yang dibangun dengan sahabat, kekasih, dan lain-lain. Sedangkan elitisme menunjukkan sikap yang kurang terbuka dan selalu menaruh curiga terhadap orang lain.

7.      Generativitas vs Stagnasi

Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity-stagnation. Sesuai dengan namanya masa dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal– hal tertentu ia mengalami hambatan.

Apabila pada tahap pertama sampai dengan tahap ke enam terdapat tugas untuk dicapai, demikian pula pada masa ini dan salah satu tugas untuk dicapai ialah dapat mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi). Generativitas adalah perluasan cinta ke masa depan. Sifat ini adalah kepedulian terhadap generasi yang akan datang. Melalui generativitas akan dapat dicerminkan sikap memperdulikan orang lain. Pemahaman ini sangat jauh berbeda dengan arti kata stagnasi yaitu pemujaan terhadap diri sendiri dan sikap yang dapat digambarkan dalam stagnasi ini adalah tidak perduli terhadap siapapun.

Maladaptif yang kuat akan menimbulkan sikap terlalu peduli, sehingga mereka tidak punya waktu untuk mengurus diri sendiri. Selain itu malignansi yang ada adalah penolakan, di mana seseorang tidak dapat berperan secara baik dalam lingkungan kehidupannya akibat dari semua itu kehadirannya ditengah-tengah area kehiduannya kurang mendapat sambutan yang baik.

Harapan yang ingin dicapai pada masa ini yaitu terjadinya keseimbangan antara generativitas dan stagnansi guna mendapatkan nilai positif yang dapat dipetik yaitu kepedulian. Ritualisasi dalam tahap ini meliputi generasional dan otoritisme. Generasional ialah suatu interaksi/hubungan yang terjalin secara baik dan menyenangkan antara orang-orang yang berada pada usia dewasa dengan para penerusnya. Sedangkan otoritisme yaitu apabila orang dewasa merasa memiliki kemampuan yang lebih berdasarkan pengalaman yang mereka alami serta memberikan segala peraturan yang ada untuk dilaksanakan secara memaksa, sehingga hubungan diantara orang dewasa dan penerusnya tidak akan berlangsung dengan baik dan menyenangkan.

8.      Integritas vs Keputusasaan

Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang diduduki oleh orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir.

Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya.

Dalam teori Erikson, orang yang sampai pada tahap ini berarti sudah cukup berhasil melewati tahap-tahap sebelumnya dan yang menjadi tugas pada usia senja ini adalah integritas dan berupaya menghilangkan putus asa dan kekecewaan. Tahap ini merupakan tahap yang sulit dilewati menurut pemandangan sebagian orang dikarenakan mereka sudah merasa terasing dari lingkungan kehidupannya, karena orang pada usia senja dianggap tidak dapat berbuat apa-apa lagi atau tidak berguna. Kesulitan tersebut dapat diatasi jika di dalam diri orang yang berada pada tahap paling tinggi dalam teori Erikson terdapat integritas yang memiliki arti tersendiri yakni menerima hidup dan oleh karena itu juga berarti menerima akhir dari hidup itu sendiri. Namun, sikap ini akan bertolak belakang jika didalam diri mereka tidak terdapat integritas yang mana sikap terhadap datangnya kecemasan akan terlihat.

Kecenderungan terjadinya integritas lebih kuat dibandingkan dengan kecemasan dapat menyebabkan maladaptif  yang biasa disebut Erikson berandai-andai, sementara mereka tidak mau menghadapi kesulitan dan kenyataan di masa tua. Sebaliknya, jika kecenderungan kecemasan lebih kuat dibandingkan dengan integritas maupun secara malignansi yang disebut dengan sikap menggerutu, yang diartikan Erikson sebagai sikap sumaph serapah dan menyesali kehidupan sendiri. Oleh karena itu, keseimbangan antara integritas dan kecemasan itulah yang ingin dicapai dalam masa usia senja guna memperoleh suatu sikap kebijaksanaan.

C. Teori Perkembangan Kognitif Piaget

 Piaget merupakan salah seorang yang merumuskan teori yang dapat menjelaskan fase-fase perkembangan kognitif. Teori ini dibangun berdasrkan sudut pandang yang disebut sudut pandang aliran structural (structuralism) dan aliran konstructive (constructivism)Aliran structural yang mewarnai teori Piaget dapat dilihat pandanganya tentang intelegensi yang berkembang melalui serangkaian tahap perkembangan yang ditandai oleh perkembangan kualitas struktur kognitif. Aliran konstruktif terlihat dari pandangan Piaget yang menyatakan bahwa, anak membangun kemampuan kognitif melalui interaksi dengan dunia di sekitarnya.Menurut Piaget, perkembangan kognitif mempunyai empat aspek, yaitu

1. Kematangan

Kematangan sistem syaraf menjadi penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman fisik. Kematangan membuka kemungkinan untuk perkembangan sedangkan kalau kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi secara kognitif. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan tergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri.

2. Pengalaman

Interaksi antara individu dan dunia luar merupakan sumber pengetahuan baru, tetapi kontak dengan dunia fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut.



3. Interaksi Sosial

Lingkungan sosial termasuk peran bahasa dan pendidikan, pengalaman fisik dapat memacu atau menghambat perkembangan struktur kognitif

4. Ekuilibrasi

Proses pengaturan diri dan pengoreksi dirin, mengatur interaksi spesifik dari individu dengan lingkungan maupun pengalaman fisik, pengalaman sosial dan perkembangan jasmani yang menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun baik.

Semua oerganisme dilahirkan dengan suatu kecenderungan untuk beradaptasi (menyesuaikan diri) dengan lingkunganya.


 Cara individu beradaptasi berbeda bagi setiap individu. Adaptasi terjadi dalam atau melalui suatu proses, yaitu asimilasi dan akomodasi. 

1.      Asimilasi

Asimilasi  adalah  proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Sebagai contoh anak-anak telah mengenali ciri-ciri yang terdapat pada burung seperti bersayap dan dapat terbang. Pemahaman baru ini akan dapat diterima dan akan masuk ke dalam skemabaru anak-anak. Pada saat anak-anak melihat seekor burung merpati yang masih memenuhi ciri-ciri tersebut, pemahaman ini akan ditambahkan ke skema burung. 



2.      Akomodasi 

Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru. Sebagai contoh anak-anak yang memahami skema burung tadi menjumpai ayam yang bersayap. Dalam  skemanya menyerupai kelompok keluarga burung tetapi tidak terbang. Dengan pengalaman baru ini anak-anak perlu mengakomodaikan pemahaman yang ada kedalam skema yang baru bahwa semua burung pada umumnya dapat terbang tetapi ada pengecualian fakta karena ada burung yang tidak dapat terbang.

Dalam perkembangan kognitif diperlukan keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Proses ini disebut dengan ekuilibrium, yaitu pengaruh diri secara mekanisme yang diperlukan untuk mengatur keseimbangan proses asimilasi dan akomodasi. Ekuilibrasi adalah proses bergerak dari keadan disekuilibrium ke ekuilibrium. Ekuilibrasi membuat seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya (skema)..Apabila terjadi keseimbangan maka seseorang dipacu untuk mencari keseimbangan baru dengan asimilasi dan akomodasi. Bagi Piaget proses akomodasi tersebut dapat disamakan dengan belajar. Konsep ini menjelaskan tentang perlunya pendidik memilih dan menyesuaikan materi pembelajaran yang berbijak dari ide dasar yang diketahui oleh anak, untuk kemudian dikembangkan dengan stimulasi lebih luas, misalnya dalam bentuk pertanyaan sehingga kemampuan anak meningkat dalam menghadapi pengalaman yang lebih kompleks (Asmawati,  2008:1.23)

BAB III 

PENUTUP 

Kesimpulan

1. Menurut penelitian ternyata bahwa manusia itu mengalami grafik kehidupan jasmaniah maupun rohaniah ataupun kejiwaan maksudya dalam usia muda ataupun sejak usia kelahiran sampai usia tua dan setiap waktu usia tertentu, terjadi perobahan-perobahan hidup yang mempunyai ciri-ciri khas tersendiri.

Freud mengatakan gagasan bahwa energi fisik bisa diubah ,enjadi energi psikis dan sebaliknya. Yang menjembatani energi fisik dengan kepribadian adalah ide dengan naluri-nalurinya (instingnya).

Bagi Erikson dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan pengungkapan nya sebagai tindakan-tindakan sosial. Hal ini berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme. Sehingga seseorang tersebut menjadi matang setara dengan suatu organisme . sehingga seseorang tersebut menjadi matang secara fisik dan psikologi. Masyarakat yang berbeda-beda dengan perbedaan kebiasaan cara mengasuh anak-anak cenderung membentuk kepribadian yang sesuai kebutuhan dan nilai-nilai budaya nya.

Teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif memberikan batasan kembali tentang kecerdasan, pengetahuan dan hubungan anak didik dengan lingkungannya. Seorang guru diharuskan memiliki kompetensi bidang kognitif. Artinya seorang guru harus memiliki kemampuan intelektual, seperti penguasaan materi pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan cara menilai siswa dan sebagainya.



                               DAFTAR PUSTAKA

Alwisol. 2009. Psikologi Kepribadian. Malang:  UMM Press.

Suryabrata, Sumardi. 2012. Psikologi Kepribadian. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Feist, Jess and Gregory J. Feist. 2010. Teori Kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika.

Koswara, E. 1991. Teori-Teori Kepribadian. Bandung: Eresco

“ SEJARAH PERADABAN ISLAM PADA MASA PEMERINTAHAN TURKI USMANI“.


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “ SEJARAH PERADABAN ISLAM PADA MASA PEMERINTAHAN TURKI USMANI“. Meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Fahmi Khumaini,M.Pd selaku Dosen mata kuliah Sejarah Peradaban Islam IAI Sunan Giri yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai jatuhnya kekuasaan . Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.






Penyususn





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................... i
DAFTAR  ISI …………….....................................................................   ii
BAPENDAHULUAN ................................................................................   1
A. Latar Belakang ......................................................................................  1
B. Rumusan Masalah ................................................................................   2
C. Tujuan ...................................................................................................   2
D. Batasan  .................................................................................................   2
BAB II ISI  …………………………………………………………………….  3
A. Asal usul Turki Usmani ……………………………………………….   3
B. Kemajuan Ilmu Pengetahuan Dan Budaya……………………………    6
C. Masa Kemunduran Dan Kehancuran Turki Usmani………………….    9
BAB III PENUTUP…………………………………………………………….   11
A. Kesimpulan…………………………………………………………….   11
B. SARAN DAN KRITIK.……………………………………………….    11
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………    12

BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Di masa sekarang ini kita umat Islam mendapat ujian yang sangat berat, di mana keadaan umat Islam sangat ketinggalan dalam segala aspek kehidupan duniawi dibanding umat lain. Padahal kalau dilihat kebelakang, umat Islam begitu berjaya selama lebih dari 5 abad, bahkan kemajuan yang dirasakan bangsa-bangsa Barat sekarang, tidak mungkin bisa dilepaskan dari peranan umat Islam di masa keemasannya.
Umat Islam sekarang perlu berkaca kepada pendahulu mereka, mempelajari sejarah mereka, dan mengambil i’tibar serta meneladani perjuangan, semangat mereka dalam memajukan Islam dan kaum muslimin. Sehingga dengan begitu timbullah rasa bangga, percaya diri, dan berkobarlah semangat yang sudah lama tergerus oleh bayang-bayang gemerlap kemajuan bangsa-bangsa barat yang telah memenuhi segala aspek kehidupan kita.
Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (لتفتحن القسطنطينية فلنعم الأمير أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش ) (روه الإمام أحمد في مسنده ).

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.

Disemangati hadits ini, pemimpin-pemimpin Islam berlomba-lomba berusaha menaklukkan ibukota imperium Romawi ini, demi memperoleh keistimewaan pujian Rasulullah di dalam Hadits tersebut, sebagai sebaik-baik pemimpin. Upaya pertama dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 668 M, namun gagal dan salah satu sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Ayyub Al-Anshari ra. gugur. Sebelumnya Abu Ayyub sempat berwasiat jika ia wafat meminta dimakamkan di titik terjauh yang bisa dicapai oleh kaum muslim karena ingin mendengarkan derap langkah kuda sebaik-baik pemimpin di zamannya. Dan para sahabatnya berhasil menyelinap dan memakamkan beliau persis di sisi tembok benteng Konstantinopel di wilayah Golden Horn.
Generasi berikutnya, baik dari Bani Umayyah maupun Kekhalifahan Abbasiyah hingga zaman Turki Usmani di masa Sultan Murad II juga gagal menaklukan Konstantinopel. Salah satu peperangan Murad II adalah melawan Vlad Dracul, seorang tokoh Crusader yang bengis dan sadis yang telah membunuh ratusan ribu muslimin. Selama 800 tahun kegagalan selalu terjadi, hingga anak Sultan Murad II yaitu Muhammad II naik tahta Turki Usmani, dan diusianya yang sangat muda  19 tahun beliau berhasil membuktikan nubuwwah Rasulullah SAW yaitu menaklukkan kota Konstatinopel.


B.Rumusan Masalah :


1.Asal usul dinasti Turki Usmani
2.Kemajuan pengetahuan dan kebudayaan
3.Kemunduran Kerajaan Turki Usmani


C. Tujuan Makal Tujuan makalah :


 1.Mengetahui pendiri Kerajaan Turki Usmani dan proses kemunculannya.
 2.Mengetahui siapa saja para pemimpin dimasa Kerajaan Turki Usmani.
 3.Mengetahui perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam di masa Kerajaan Turki Usmani.


D.  Batasan Masalah :

        Dalam makalah ini kami hanya membahas seputar Kerajaan Turki Usmani mulai kemunculannya sampai        keruntuhannya, dan sekitar yang terjadi di masa kekuasaan Turki Usmani



BAB II

ISI

A. ASAL USUL TURKI USMANI

Negara Turki yang kita kenaal dewasa ini,Republik Turki,Keberadaannya tellah mengalami babakan sejarah yang cukup panjang,bermula dari berdirinya kerajaan Turki Usmani pada periode pertengah tengahan .Masa kemajuan dihitumg dari mulai digerakannyya ekspansi ke wilayah baru yang belum ditunndukkan oleh pendahulu bangsa Turki.Keberhasilan mereka dalam memperluas wilayah kekuasaan serta terjadinya peristiwa penting merupakan suatu indikasi yang dapat dijadikan ukuran untuk menentukann kemajuan Turki dan sejarah perkembangan Islam diTurki.
 Pendiri Turki adalah angsa Turk sendiri dari kabilah qayigh oghus.Oghus ssalah satu anak suku Turki yang tinggal disebelah barat gurun Qobi.Atau daerah Mongol dan daeeah utara negri China yang dipimpin oleh Sulaiman.Beliau mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol yang menyerang Islam yang berada dibawah kekuasaan Dinasti Khawarizm pada tahun 1219-1220 dan pindah kearah barat dan meminta perlindungan Jalaluddin pemimpin dari dinasti Khawarizm di Transomania.Jalaluddin menyuruh agar pergi kearah barat (Asia Kecil) kemidian menetap dan pindah ke Syam untuk menghindari serangan Mongol.
 Dalam usahanya pindah itu,pemimpin Turki mendapat kecelakaan.mereka hanyut disungai Efrat yang tiba-tiba pasang karena banjir besar pada tahun 1228.akhirnya mereka terbagi menjadi dua kelompok.kelompok satu ingin pulang ke negri asalnya dan kelompok dua ingin meneruskan perjalanannya ke Asia kecil.kedua kelompok berjumlah 400 kepala keluarga yang dipimpin oleh (Ertogrol) Ertugril Ibn Sulaiman .mereka mengabdikan dirinya kepad Dinasti Saijuk (Sultan Alauddin U) yang pusat pemerintahannya di Kuniya.Anatolia Asia kecil .Pada saat itu Sultan Alauddin N sedang menghadap peperangan dari bangsa Romawi.Dengan bantuan dari Turki pimpinan Erthogrol .Sultan Alauddin II mencapai kemenangan.Atas jasa baik Sultan menghadiahkan sebidang tanah yang perbatasan dengan Byzantium.Sejak itu Erthogrol terus membina wilayah barunya dan berusaha memperluas wilayah dengan merebut wilayah Byzantium.
 Pada tahun 1288 Erthogrol meninggal dunia.Meninggalkan putra yang bernama Usman ,yang diperkirakan lahir pada 1258 M.Usman inilah yang ditunjuk Erthogrol untuk meneruskan kepemimpinannya dan disetujui oleh Sultan Saijuk.Nama Usman inilah yang nanti diambil sebagai nama kerajaan Turki Usmani.Usman banyak berjasa kepada ayahnya .Kemenangan-kemenangan disetiap peperangan diraih oleh Usman.Keberhasilan Usman ini membuat Sultan Alauddin II semakin simpati dan banyak memberi hak istimewa.Bahkan Usman diangkat menjadi Gubernur dengan gelar BEY,Dan namanya selalu disebut dalam doa setiap jumat.
 Penyerangan bangsa Mongo pada tahun 1300 kewilaysh kekuasaan Saijuk mengakibartkan terbunuhmya Sultan Saijuk tanpa meninggalkan pewaris,kesultanan dalam keadaan kosong  itulah Usman memerdekakan wilayahnya dan bertahan terhadap serangan bangsa Mongol.Usman memproklamirkan kemerdekaan wilayahnya dengan nama kesultanan Usmani.
Dengan jatuhnya jazirah arab maka imperium Turki Usmani mempunyai wilayah yang sangat luas, terbentang dari Budapest di pinggir sungai Thauna sampai ke Aswan dekat hulu sungai Nil dan dari sungai Efrat serta pedalaman iran sampai Babel-Mandib di selatan Jazirah Arab.
 Selama masa kesultanan Turki Usmani (1299-1942 M) Tidak kurang ada 40 raja yang berkuasa yaitu :
No. Nama Khilafah Tahun Pengangkatan  (Masehi)
1 Utsman I 1281
2 Orhan 1324
3 Murad I 1306
4 Bayazid I 1389
 Peralihan Kekuasaan 1402
5 Muhammad I 1413
6 Murad II 1421
7 Muhammad II 1444
8 Murad II (menjabat yang kedua kalinya) 1446
9 Muhammad II (menjabat ketiga kalinya) 1451
10 Bayazid II 1481
11 Saim I 1512
12 Sulaiman I 1520
13 Salim II 1566
14 Murad III 1574
15 Muhammad III 1594
16 Ahmad I 1603
17 Musthofa I 1617
18 Utsman II 1618
19 Musthofa I (menjabat kedua kalinya) 1622
20 Murad IV 1623
21 Ibrahim 1640
22 Muhammad IV 1648
23 Sulaiman II 1678
24 Ahmad II 1691
25 Musthofa II 1695
26 Ahmad III 1703
27 Mahmud I 1730
28 Utsman III 1754
29 Musthofa III 1757
30 Abdul Hamid I 1774
31 Salim III 1789
32 Musthofa IV 1807
33 Mahmud II 1808
34 Abdul Majid I 1839
35 Abdul Aziz 1861
36 Murad V 1876
37 Abdul Hamid II 1876
38 Muhammad Rasyid V 1909
39 Muhammad Wahid al-Din 1918
40 Abdul Majid  1914

Dalam hal ini Mughni membagi Sejarah Perkembangan Turki Usmani menjadi 5 Periode yaitu :
1. Periode Pertama (1299-1402 M) - Yang dimulai dari berdirinya kerajaan, ekspansi pertama sampai kehancuran sementara oleh serangan timur yaitu dari pemerintahan Usman I sampai pemerintahan Basyazid.
2. Periode Kedua (1402-1566 M) – Ditandai dengan restorasi kerajaan dan cepatnya pertumbuhan sampai ekspansi yang terbesar dari  masa Muhammad I sampai Sulaiman I.
3. Periode Ketiga  (1566-1699) – Periode ini ditandai dengan kemajuan Turki Usmani untuk mempertahankan wilayahnya, sampai lepasnya Hungaria, namun kehancuran segera terjadi dari masa pemerintahan Salim II sampai Mustafa II.
4. Periode Keempat (1699-1838) – Periode ini ditandai dengan menurunnya kekuatan kerajaan dan pecahnya wilayah yang di tangan para penguasa wilayah dari masa pemerintahan Ahmad III Sampai Mahmud II.
5. Periode Kelima (1839-1922) – Periode ini ditandai dengan kebangkitan kultural dan administrasi dari Negara di bawah pengaruh ide-ide barat. Dari masa pemerintahan sultan A. Majid sampai A. Majid II.
Pada periode akhir ini disebut dengan periode era kontemporer dimana Turki menjadi Negara Republik. Dan tidak lagi bersistem kerajaan, dinasti, atau kekhalifahan sebagaimana yang telah berlangsung berabad-abad.
Karna daulah Turki Usmani adalah salah satu daulah yang berhasil menaklukan Kostantinopel walaupun sudah banyak daulah yang berusaha menaklukan sebelumnya.
Turki Usmani kembali menyumbangkan wilayah bagi dunia islam mereka berhasil melakukan ekspansi islam ke Eropa Timur satu-satunya yang berhasil menaklukan Kostantinopel yang menjadi Ibu Kota kerajaan Romawi pada saat itu, yang dipimpin oleh Sultan Muhammad Al-Fatih.
Puncak Kejayaan Turki Usmani dalam memprluas wilayah ekspansi adalah di tangan Sulaiman I (1570-1566) yang dikenal sebagai Sulaiman Agung dan Sulaiman Al-Qanun. Pemerintahannya meliputi Afrika Utara, Mesir, Hijaz, Irak, Armenia, Asia, Baikan, Yunani, Bosnia, Bulgaria, Hungaria, Rumania,   sampai ke batas sungai Danube.
Itulah gambaran luasnya wilayah kekuasaan Turki Usmani yang dimulai dari Asia, Afrika sampai ke Eropa Timur berbatasan dengan tiga lautan yang telah mereka sumbangkan ke dunia Islam sehingga Turki Usmani adalah daulah yang paling besar dan paling lama berdiri disbanding daulah-daulah islam lainnya.1)

B. KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN DAN BUDAYA
Kebudayaan Turki Usmani merupakan perpaduan dari bermacam-macam kebudayaan. Diantaranya kebudayaan persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak mengambil tentang ajaran etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Organisasi pemerintah dan kemiliteran banyak mereka serap dari Bizantium. Sedangkan tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial dan kemasyarakatan, keilmuwan dan huruf mereka serap dari Bangsa Arab. 2)
Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Usmani lebih banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu pengetahuan, Agar sedikit banyak kita memiliki gambaran tentang kemajuan ilmu pengetahuan, maka sebelumnya kita perlu mengetahui perkembangan pendidikan pada masa Turki Usmani yang meliputi lembaga pwndidikan islam, kurikulum dan metode pendidikan.

Pada masa itu sufisme sangat digemari oleh umat islam, dan mengalami perkembangan yang cukup pesat. Sehingga madrasah-madrasah yang berkembang pada waktu itu diwarnai dengan kegiatan-kegiatan sufi, diantara nya adalah riyadhah, yaitu merintis jalan menuju tuhan dibawah bimbingan otoritas guru-guru sufi
Pada masa itu lapangan ilmu pengetahuan kian sempit dan mengalami kemunduran. Madrasah adalah satu-satunya lembaga pendidikan umum, sedangkan didalamnya hanya di ajarkan pendidikan agama. Maka apabila kemudian ada sarjana-sarjana besar tertentu dan pemikir-pemikir orisinil yang muncul dari waktu kewaktu, adalah keistimewaan dalam diri mereka sendiri dan tidak banyak  menimba ilmu dari kurikulum yang resmi. Kenyataannya pada abad-abad pertengahan akhir hanya menghasilkan sejumlah besar karya-karya komentar, dan bukan karya-karya orisinil.3) Karena pada waktu itu belum memiliki kurikulum yang kongkrit, dan metode pada waktu itu lebih pada metode hafalan-hafalan saja.

Secara praktis terjadi stagnasi dibidang ilmu dan teknologi, kemajuan militer usmani tidak di imbangi dengan sains. Ketika pihak eropa berhasil mengembangkan teknologi persenjataan, kemudian pihak usmani mengalami kekalahan ketika terjadi kontak senjata dengan eropa, belum lagi terjadi nya konflik internal dan merosot nya perekonomian Negara.

Hingga terjadilah reformasi yang dilakukan di zaman modern yaitu pada masa Sultan Mahmud II yang diikuti oleh Sultan berikutnya yaitu Abdul Majid di berbagai bidang, termasuk dibidang pendidikan, kerena pendidikan memiliki pengaruh yang cukup besar bagi pengembangan pembaharuan kerajaan Usmani, hal itu dilakukan untuk mempertahankan Daulah Usmaniah. Sultan Mahmud II sadar bahwa madrasah tradisional tidak lagi sesuai dengan tuntutan zaman abad 19.

3) Abuddin Nata. Sejarah pendidikan pada periode klasik dan pertengahan h. 285.
Reformasi dilakukan Sultan Mahmud II mulai dari sekolah dasar. Perubahan itu antara lain : mewajibkan kehadiran siawa di kelas, dibuat nya sistem kelas membuka sekolah asrama bagi anak-anak yatim dan mengawaai kualitas guru, hingga adminiatrasi sekolah pun mulai di kelola.
Setelah itu lahirlah lembaga-lembaga pendidikan islam yang bersifat modern yang lebih tertata rapi. Pada tingkat dasar lahirlah pendidikan sibyan mektepleri atau di kenal dengan Sekolah Dasar, yang pada periode klasik, sekolah dasar atau sibyan mektepleri umumnya didirikan oleh para elit seperti pejabat atau sultan. Pada waktu itu sekolah dibangun dalam kompleks masjid. Kehadiran sekolah itu pun akhirnya menyebar ke hampir berbagai penjuru desa lantaran pembangunannya tak memakan dana yang terlalu besar. dan pada waktu itu setiap muslim memiliki hak untuk bersekolah, baik laki-laki maupun perempuan. Madrasah yang sebagai pusat pendidikan dan kesetaraan ini terus menyebar seiring dengan kian luasnya kekuasaan Turki Usmani. Saat menaklukan sebuah wilayah baru, segera dibangun masjid dan madrasah secara struktural.

Pada masa reformasi Sultan Mahmud II ini pula berdiri madrasah mekteb-i Ma'arif (sekolah pengetahuan umum), mekteb-i ulum-u Edebiye (sekolah sastra), sekolah militer, sekolah teknik, sekolah kedokteran dan sekolah pembedahan, kedua sekolah ini kemudian digabung dalam satu wadah yaitu: Dar-ul lum-u hikemiye ve mekteb-I Tibbiye-I Sabane.4) Berdiri pula perguruan tinggi, antara lain Sekolah Hukum Tinggi, Sekolah Tinggi Keuangan, Kesenian, Dagang, Teknik, Polisi, Sekolah Dokter Hewan dan Universitas Istanbul. 5)

Untuk masalah Kurikulum, pada abad pertengahan, kurikulum yang digunakan disekolah madrasah belum menggunakan  kurikulum yang resmi sehingga pembelajarannya hanya dititik beratkan pada pendidikan agama saja, hingga masa reformasi Sultan Mahmud II mengeluarkan maklumat tentang pendidikan dasar, mulai adanya perubahan sistem kurikulum, dengan kurikulum baru tersebut dimasukkan pelajaran umum. Hingga tahun 1864 kurikulum mulai disusun lebih baik dan mulai diajarkan banyak pelajarn tambahan seperti seni, geografi, aritmatika dll mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi 6)


4) Harun Nasution. Pembaharuan dalam islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan. (Jakarta: Bulan Bintang. 1992), H. 94.
5) Abuddin Nata. Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan. H, 288
6) Abuddin Nata, dalam Harun Nasution. H, 287
Pada masa reformasi ini terdapat pula perubahan dalam metode pengajaran, siswa diberikan kebebasan dalam berfikir dan berdiskusi tentang pengetahuan yang telah ia baca, banyak pula siswa yang dikirim ke luar negeri dan sekembalinya, ia membawa pengaruh yang besar serta adanya ide-ide baru.

Setelah mengetahui sejarah perkembangan pendidikan pada masa Turki Usmani, dapatlah kita mengetahui kesimpulan bahwa dalam bidang ilmu pengetahuan, Daulah Usmaniah  tidak begitu terlihat. Karena itulah didalam khazanah intelektual islam tidak banyak ditemukan ilmuan terkemuka dari turki. Namun demikian, mereka banyal berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur berupa bangunan-bangunan masjid yang indah.

C. MASA KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN TURKI USMANI

Masa kemrosotan Turki Usmani dimulai dari krisis suksesi sepeninggal Sulta Sulaiman pada 1566M.Sampai sebelu Turki menjadi Republik 1923M ditangan Mustafa Kamal Attaturuk.tercatat 27 sultan tidak dapat diandalkan.tentu kemewahan dalam istana telah merusak mental anak-anak sultan tersebut.
 Sultan Salim II (1566-1573 M) engganti sultan Sulaiman terjadi peperangan antara angkatan laut Turki Usmani dengan angkatan laut Spanyol diselat Lopento (Yunani), dalam pertempuran itu Turki Usmani mengalami kekalahan sehingga Tunisia dapat direbut musuh dimasa Sultan Murad III(1574-1595 M),
Walau Sultan III berkepribadian jelek,tetapi Tunisia dapat direbut kembali dan juga menguasai Tiflis di laut Hitam (1577M) dan mengalahkan gubernur Bosnia.7)
Akibat moral Sultan Murad II yang kurang baik timbul kekacauan dalam negri,ditambah dengan taampilnya Sultan Muhammad III(1595-1603M) yang bermoral lebih jelek daripada Murad III.Dalam situasi yang gawat ini ,Austria berhasil memukul Turki Usmani.

7) Hasan Ibrahim Hasan Sejarah dan kebudayaan Islam,Yogyakarta;Kota Kembang,1989.h.339.
Dalam rentan waktu yang sudah sangat panjang Daulah Usmani memerintah di Eropa sudah mulai timbul negara-negara yaang kuat sehinggaa daerah Usmani diEropa satu persatu membebaskaan diri dari kekuasaan Daulah Turki Usmani.Maka Daulah Turki Usmani yang sudah pernah jaya kini mendapat julukan “The sick man of Europe”.yang tinggal menunggu detik-detik kematiannya.8)
 Banyak faktor yang menyebabkan kemunduran Turki Usmani,diantarannya wilayah kekuasaannya yang luas ,rumit menyusun administrasi negara.

8) Harun nasution,Islam ditinjau.op.cit.h.87. 

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
 Sejarah Turki Usmani berdiri pada awal mula abad ke 13 dari Sultan Alauddin yang menghadiahkan sebidang tanah untuk mereka karena telah membantu melawan Byzantium. Masa kejayaan Turki Usmani yaitu ketika pada Sulaiman Al Qanuni yang memerintah, dengan kekuatan dan tatanan pemerintahan yang baik dan semua terorganisir dari bidang kemiliteran, bidang kebudayaan bahkan bidang Ilmu pengetahuan. Tapi tidak lama setelah sepeninggalnya Sulaiman Al Qanuni Turki usmani mengalami kemrosotan hal itu dipengaruhi karena perebutan kekuasaan oleh putra-putranya dan lemahnya kepribadian mereka dalam memimpin. Faktor-faktor yang menyebabkan runtuhnya Turki Usmani yaitu :
1. Wilayah kekuasaan yang sangat luas
2. Heterogenitas penduduk
3. Kelemahan para penguasa
4. Budaya pungli
5. Pemberontakan tentara jenissari
6. Merosotnya ekonomi
7. Terjadinya stagnasi dalam lapangan Ilmu pengetahuan dan teknologi

B. SARAN DAN KRITIK
Banyak hal yang harus diperbaiki dalam penulisan makalah ini karena kita juga masih belajar. Kritik dan saran dari para pembaca sangat diharapkan dari penulis agar kedepannya makalah lebih baik lagi.



DAFTAR PUSTAKA

Ismawati. Erina. R, Yolla, Novi. Diah. Karisma. 2018. Makalah Peradaban Islam Pada Masa Tiga Kerajaan Besar, Turki Usmani.
Karim. M. Abdul. 2007.  Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam. Yogyakarta : Pustaka Book Publisher.
Nasution, Syamrudin. 2013. SEJARAH PERADABAN ISLAM. Pekan Baru : Yayasan Pustaka Riau.

Teori Perkembangan Manusia

KATA PENGANTAR  Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam yang tela...