KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirahim, puji syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah pada mata kuliah Tafsir Tarbawi ini dengan baik. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang tafsir beberapa ayat al-Quran. Dengan terselesaikanya tugas ini kami mengucapkan terima kasih kepada :
Ibu Hamidatun Nihayah, M.Th. I selaku dosen pengampu MK Tafsit Tarbawi
Orang tua yang telah membiayai dan memberikan dukungan serta semangat kepada kami.
Teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Sebagai manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya dan kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan dimasa depan. Semoga bermanfaat bagi pembaca dan penulis khususnya.
Bojonegoro, 7 Februari 2020
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ii
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan 1
BAB 2 PEMBAHASAN 3
2.1 Lafadz dan terjemah Ar-Rahman ayat 33 3
2.2 Arti Surah Ar Rahman Ayat 33 Perkata Bahasa Indonesia 3
2.3 Kandungan Surat Ar Rahman Ayat 33 4
2.4 Penafsiran Surat Ar Rahman Ayat 33 4
2.4.1 Tafsir al-Misbah 4
2.4.2 Tafsir Jalalain 4
2.4.3 Tafsir Ibnu Katsir 4
2.4.4 Tafsir Muyassar 5
2.5 Lafadz dan terjemah Al-Fatir ayat 27-28 5
2.6 Kandungan Surat Fatir Ayat 27-28 5
2.7 Penafsiran Surat Fatir Ayat 27-28 6
2.7.1 Tafsir al-Misbah 6
2.7.2 Tafsir Jalalain 7
2.7.3 Tafsir Ibnu Katsir 7
2.7.4 Tafsir muyassar 10
2.8 Lafadz dan terjemah Az-Zumar ayat 9 11
2.9 Kandungan Az-Zumar ayat 9 11
2.10 Penafsiran Az-Zumar ayat 9 12
2.10.1 Tafsir al-Misbah 12
2.10.2 Tafsir Jalalain 12
2.10.3 Tafsir Ibnu Katsir 13
2.10.4 Tafsir Muyassar 15
2.11 Lafadz dan terjemah An-Naml ayat 40 15
2.12 Kandungan An-Naml ayat 40 15
2.13 Penafsiran An-Naml ayat 40 16
2.13.1 Tafsir al-Misbah 16
2.13.2 Tafsir Jalalain 16
2.13.3 Tafsir Ibnu Katsir 17
2.13.4 Tafsir Muyassar 19
BAB 3 PENUTUP 20
3.1 Kesimpulan 20
3.2 Saran 20
DAFTAR PUSTAKA 22
BAB l
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam al-Quran banyak terdapat ayat yang menyerukan tentang kekuatan maupun kekuasaan Allah SWT, yang salah satunya terdapat pada Surat Ar-Rahman ayat 33. Ada juga yang menerangkan tentang hikmah hujan dan kesempurnaan ciptaan Allah SWT sebagaimana terdapat dalam Surat Al-Fatir ayat 27-28.
Yakni mengenal Tuhannya, mengenal syariat-Nya dan mengenal pembalasan-Nya serta mengenal rahasia dan hikmah-hikmahnya. Mereka memiliki akal yang membimbing mereka untuk melihat akibat dari sesuatu, berbeda dengan orang yang tidak punya akal, maka ia menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Demikian sedikit ulasan Surat Az-Zumar ayat 9.
Adapun surat An-Naml ayat 40 menerangkan tentang peristiwa kerajaan atau singgasana Nabi Sulaiman.
Rumusan Masalah
Bagaimana lafadz dan terjemah Ar-Rahman ayat 33?
Apa kandungan Ar-Rahman ayat 33?
Bagaimana penafsiran Ar-Rahman ayat 33?
Bagaimana lafadz dan terjemah Al-Fatir ayat 27-28?
Apa kandungan Al-Fatir ayat 27-28?
Bagaiamana penafsiran Al-Fatir ayat 27-28?
Bagaimana lafadz dan terjemah Az-Zumar ayat 9?
Apa kandungan Az-Zumar ayat 9?
Bagaimana penafsiran Az-Zumar ayat 9?
Bagaimana lafadz dan terjemah An-Naml ayat 40?
Apa kandungan An-Naml ayat 40?
Bagaimana penafsiran An-NAml ayat 40?
Tujuan
Untuk mengetahui lafadz dan terjemah Ar-Rahman ayat 33?
Untuk mengetahui kandungan Ar-Rahman ayat 33?
Untuk mengetahui penafsiran Ar-Rahman ayat 33?
Untuk mengetahui lafadz dan terjemah Al-Fatir ayat 27-28?
Untuk mengetahui kandungan Al-Fatir ayat 27-28?
Untuk mengetahui penafsiran Al-Fatir ayat 27-28?
Untuk mengetahui lafadz dan terjemah Az-Zumar ayat 9?
Untuk mengetahui kandungan Az-Zumar ayat 9?
Untuk mengetahui penafsiran Az-Zumar ayat 9?
Untuk mengetahui lafadz dan terjemah An-Naml ayat 40?
Untuk mengetahui kandungan An-Naml ayat 40?
Untuk mengetahui penafsiran An-NAml ayat 40?
BAB ll
PEMBAHASAN
1. Lafadz dan terjemah Ar-Rahman ayat 33
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
Artinya:
“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.”
Arti Surah Ar Rahman Ayat 33 Perkata Bahasa Indonesia
وَٱلۡإِنسِ
dan manusia
ٱلۡجِنِّ
Jin
يَا مَعْشَرَ
Hai Jama’ah
أَن
Bahwa
ٱسۡتَطَعۡتُمۡ
kamu mampu /sanggup
إِنِ
Jika
أَقۡطَارِ
Penjuru
مِنۡ
Dari
تَنفُذُواْ
Penjuru
فَٱنفُذُواْۚ
maka tembuslah /lintasilah
وَٱلۡأَرۡضِ
dan bumi
السَّمَاوَاتِ
langit(jamak)
إِلَّا
Kecuali
تَنفُذُونَ
kamu menembusnya
لَا
Tidak
بِسُلْطَانٍ
dengan kekuasaan /kekuatan
Kandungan Surat Ar Rahman Ayat 33
Berikut ini adalah isi kandungan Surat Ar Rahman Ayat 33:
Allah menyeru jin dan manusia dan mempersilakan untuk melintasi langit dan bumi jika bisa melakukannya.
Di dunia ini, jin dan manusia tidak bisa lari dari takdir Allah dan tidak bisa lari dari kekuasaan-Nya.
Di akhirat nanti, jin dan manusia tidak bisa lari dari pertanggungjawaban atas amal-amal di dunia.
Manusia bisa menjelajah ruang angkasa dengan sulthan (kekuatan ilmu pengetahuan), namun kekuatan manusia itu terbatas.
Ayat ini memotivasi manusia untuk mengembangkan ilmu dan teknologi agar bisa menjelajah ruang angkasa dan lain-lain.
PenafsiranSurat Ar Rahman Ayat 33
1. Tafsiral-Misbah
Wahai jin-jin dan manusia semua, jika kalian mampu menembus penjuru langit dan bumi, tembuslah! Kalian tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan dan kekuasaan. Dan sekali-kali kalian tidak akan dapat melakukan hal itu.
Sampai saat ini terbukti betapa besarnya upaya dan tenaga yang dibutuhkan untuk dapat menembus lingkup gravitasi bumi. Kesuksesan eksperimen perjalanan luar angkasa selama waktu yang sangat sedikit dan terbatas jika dibandingkan dengan besarnya alam raya itu saja memerlukan upaya yang luar biasa di bidang sains dengan segala cabangnya: teknik, matematika, seni, geologi, dan sebagainya. Belum lagi ditambah dengan biaya sangat besar. Hal ini membuktikan dengan jelas bahwa upaya menembus langit dan bumi yang berjarak jutaan tahun cahaya itu mustahil dapat dilakukan oleh jin dan manusia.
2. Tafsir Jalalain
(Hai semua jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus) melintasi (penjuru) atau kawasan-kawasan (langit dan bumi, maka lintasilah) perintah di sini mengandung makna yang menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk melakukan hal tersebut (kalian tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan) dan kalian tidak akan mempunyai kekuatan untuk itu.
3. Tafs Ibnu Katsir
Yakni kalian tidak akan dapat melarikan diri dari perintah Allah dan takdirNya, bahkan Dia meliputi kalian dan kalian tidak akan mampu melepaskan diri dari hukum-Nya, tidak pula membatalkan hukum-Nya terhadap kalian, ke mana pun kalian pergi selalu diliput.
Dan ini menceritakan keadaan di Yaumul Mahsyar (hari manusia dihimpunkan);
sedangkan semua malaikat mengawasi semua makhluk sebanyak tujuh saf dari semua penjuru, maka tiada seorang pun yang dapat meloloskan diri, kecuali dengan kekuasaan. (QS. Ar-Rahman [55]: 33)
Yaitu dengan perintah dari Allah.
Pada hari itu manusia berkata, “Ke manakah tempat lari?” Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.(QS. Al-Qiyaamah [75]: 10-12)
Disebutkan pula dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Dan orang-orang yang mengajarkan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita.
Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Yunus [10]: 27)
4. Tafs Muyassar
Wahai jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, lakukanlah.
Namun, kalian tidak akan sanggup melakukannya kecuali dengan kekuatan dan hujah.
Urusan itu adalah dari Allah. Kalian tidak mampu mendatangkan manfaat dan mudarat bagi diri sendiri.
2. Lafa dan terjemah Al-Fatir ayat 27-28
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُّخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Artinya :
“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.”
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Kandungan Surat Fatir Ayat 27-28
Tanda-tanda kekuasaan Allah ialah diturunkannya hujan, tumbuhlah tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan buah-buahan yang beraneka ragam.
Demikian juga manusia, binatang-binatang diciptakan Allah bermacam-macam warna jenisnya sebagai tanda kekuasaanNya.
Yang benar-benar mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah dan mentaatinya hanyalah ulama, yaitu orang-orang yang mengetahui secara mendalam kebesaran Allah. Dia Maha Perkasa menindak orang-orang kafir, Maha Pengampun kepada hamba-hambanya yang beriman dan taat.
Penafsiran Surat Fatir Ayat 27-28
1. Tafs al-Misbah
Wahai orang yang berpikir, bukankah kamu telah melihat bahwa Allahlah yang menurunkan air hujan dari langit. Lalu dengan sebab air hujan itu, muncullah berbagai jenis buah-buahan, ada yang merah dan kuning, ada yang manis dan masam, dan ada yang baik dan buruk.
Dan di antara gunung-gunung ada yang memiliki jalur-jalur dan garis-garis berwarna putih dan merah yang kejelasan dan keburamannya berbeda satu sama lain Dan gunung-gunung….
Kemukjizatan ayat ini dari segi ilmu pengetahuan sebenarnya bukan saja tampak ketika ia menyebutkan bahwa warna gunung yang bermacam-macam itu disebabkan adanya perbedaan materi-materi yang dikandung oleh bebatuan gunung-gunung itu. Jika materinya besi, maka warna dominannya adalah merah, jika materinya batubara, maka warna dominannya hitam, jika materinya perunggu, maka gunung tersebut berwarna kehijau-hijauan, dan seterusnya. Tidak hanya sampai di situ, kemukjizatan ayat ini sebenarnya sangat menonjol ketika ia mengaitkan adanya berbagai jenis buah-buahan meskipun pepohonannya disiram dengan air yang sama, dengan penciptaan gunung-gunung yang beraneka warna–merah, putih atau hitam–meskipun juga berasal dari suatu materi yang sama di dalam perut bumi.
Materi ini oleh para geolog, dinamakan magma yang muncul di berbagai kawasan bumi.
Akan tetapi, karena kemunculan magma itu dari kedalaman yang berbeda, maka kandungannya menjadi berbeda pula. Magma yang berproses dari kedalaman yag berbeda, pada akhirnya, mengkristal membentuk gundukan- gundukan atau gunung-gunung yang beraneka ragam warna dan materinya. Demikianlah sebenarnya kesatuan hukum Allah. Meskipun bentuknya beraneka ragam, tetapi berasal dari materi yang satu. Semua itu adalah untuk kemudahan dan kemanfaatan umat manusia. (ayat 27)
Demikian pula di antara manusia, binatang melata, unta, sapi dan domba terdapat bermacam-macam bentuk, ukuran dan warnanya pula. Hanya para ilmuwan yang mengetahui rahasia penciptaanlah yang dapat mencermati hasil ciptaan yang mengagumkan ini dan membuat mereka tunduk kepada Sang Pencipta. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa yang ditakuti orang-orang Mukmin, Maha Pengampun segala dosa siapa pun yang berserah diri kepada-Nya.[1].
[1] Setelah memaparkan bahwa berbagai jenis buah-buahan dan perbedaan warna pegunungan itu berasal dari suatu unsur yang sama–yakni, buah-buahan berasal dari air dan gunung-gunung berasal dari magma, ayat ini pun menyitir bahwa perbedaan bentuk dan warna yang ada pada manusia, binatang-binatang melata dan hewan-hewan ternak tidak tampak dari sperma-sperma yang menjadi cikal bakalnya. Bahkan sekiranya kita menggunakan alat pembesar sekali pun, sperma-sperma tersebut tampak tidak berbeda. Di sinilah sebenarnya letak rahasia dan misteri gen dan plasma. Ayat ini pun mengisyaratkan bahwa faktor genetislah yang menjadikan tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia tetap memiliki ciri khasnya dan tidak berubah hanya disebabkan oleh habitat dan makanannya. Maka sungguh benar jika ayat ini menyatakan bahwa para ilmuwan yang menetahui rahasia-rahasia penciptaan sebagai sekelompok manusia yang paling takut kepada Allah. (ayat 28)
2. Tafsir Jalalain
(Tidakkah kamu melihat) mengetahui (bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan) di dalam ungkapan ayat ini terkandung Iltifat dari dhamir Gaib (dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya) ada yang berwarna hijau, merah dan kuning dan warna-warna lainnya. (Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis) Judadun adalah bentuk jamak dari lafal Juddatun, artinya jalan yang terdapat di gunung dan lainnya (putih, merah) dan kuning (yang beraneka macam warnanya) ada yang tua dan ada yang muda (dan ada -pula yang hitam pekat) di'athafkan kepada lafal Judadun, artinya ialah batu-batu yang besar yang hitam pekat warnanya. Dikatakan Aswadu Gharbiibu, hitam pekat; tetapi sangat sedikit dikatakan Gharabiibu Aswadu. (ayat 27)
(Dan demikian pula di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya) sebagaimana beraneka ragamnya buah-buahan dan gunung-gunung. (Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama) berbeda halnya dengan orang-orang yang jahil seperti orang-orang kafir Mekah. (Sesungguhnya Allah Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Pengampun) terhadap dosa hamba-hamba-Nya yang mukmin. (ayat 28)
3. Tafsir Ibnu Katsir
Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang kekuasaan-Nya yang sempurna melalui segala sesuatu yang diciptakan-Nya yang beraneka ragam bentuk dan rupanya, padahal mereka diciptakan dari air yang diturunkan-Nya dari langit. Lalu tumbuhlah darinya berbagai macam buah yang beraneka ragam warnanya, ada yang kuning, ada yang merah, ada yang hijau, ada yang putih, ada pula warna-warna lainnya, dan bermacam-macam pula rasa dan baunya.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:
Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan dan kebun-kebun anggur, tanam tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan ain yang sama.
Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berakal.
(QS. Ar-Ra’d [13]: 4)
Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka ragam warnanya.
(QS. Faathir [35]: 27)
Artinya, Dia menciptakan gunung-gunung yang beraneka ragam warnanya sebagaimana yang dapat kita saksikan, ada yang berwarna putih dan ada yang berwarna merah.
Pada sebagiannya ada yang bergaris-garis. Diungkapkan oleh Alquran dengan lafaz al-judud yang artinya beraneka warna.
Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa al-judud artinya bergaris-garis, hal yang sama telah mengatakan oleh Abu Malik, Al-Hasan, Qatadah, dan As-Saddi.
Ikrimah mengatakan bahwa garabibu sud artinya gunung-gunung yang panjang lagi berwarna hitam, orang-orang Arab mengatakan aswad garabib, artinya hitam pekat.
Karena itulah maka ada sebagian ahli tafsir yang mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa ungkapan ayat ini (yakni lafaz garabibu sud) termasuk ungkapan muqaddam dan muakhkhar, diungkapkan oleh firman-Nya, “garabibu sud,” artinya sud garabib, yakni hitam pekat. Akan tetapi, pendapat ini masih perlu diteliti. (ayat 27)
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). (QS. Faathir [35]: 28)
Yakni demikian pula makhluk hidup, baik manusia maupun binatang.
Binatang diungkapkan oleh ayat dengan istilah dawab yang artinya setiap hewan yang berjalan dengan kaki, sedangkan lafaz an’am yang jatuh sesudahnya di-ataf-kan kepadanya, termasuk ke dalam pengertian ataf khas kepada am. Yakni demikian pula manusia dan binatang-binatang serta hewan ternak, beraneka ragam pula warna dan jenisnya. Manusia ada yang termasuk bangsa Barbar, ada yang termasuk bangsa Habsyah dan bangsa yang berkulit hitam, ada yang termasuk bangsa Sicilia, dan bangsa Romawi yang keduanya berkulit putih, sedangkan bangsa Arab berkulit pertengahan dan bangsa Indian berkulit merah.
Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain: dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Ar-Rum [30]: 22)
Demikian pula hewan yang melata dan hewan ternak beraneka ragam warnanya, sekalipun dari satu jenis. Bahkan satu jenis dari hewan ada yang mempunyai warna kulit yang beraneka ragam, di antaranya ada yang berwarna blonde dan warna-warna lainnya.
Mahasuci Allah sebaik-baik Yang Menciptakan.
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnu Sahl, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Umar ibnu Aban ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Ziad ibnu Abdullah, dari Ata ibnus Sa’ib, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ, lalu bertanya, “Apakah Tuhanmu memberi warna?”
Nabi ﷺ menjawab, “Ya, warna yang tidak pernah luntur, merah, kuning dan putih.”
Hadis ini diriwayatkan ada yang mursal ada pula yang mauquf, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.
(QS. Faathir [35]: 28)
Yakni sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama yang mengetahui tentang Allah subhanahu wa ta’ala Karena sesungguhnya semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang Allah subhanahu wa ta’ala Yang Mahabesar, Mahakuasa, Maha Mengetahui lagi menyandang semua sifat sempurna dan memiliki nama-nama yang terbaik, maka makin bertambah sempurnalah ketakutannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS. Faathir [35]:28)
Yaitu orang-orang yang mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ibnu Lahi’ah telah meriwayatkan dari Ibnu Abu Amrah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang yang mengetahui tentang Allah Yang Maha Pemurah dari kalangan hamba-hamba-Nya ialah orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan ia menghalalkan apa yang dihalalkan-Nya dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, serta berpegang teguh kepada perintah-Nya, dan meyakini bahwa dia pasti akan bersua dengan-Nya dan Dia akan menghisab amal perbuatannya.
Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa khasy-yah atau takut kepada Allah ialah perasaan yang menghalang-halangi antara kamu dan perbuatan durhaka terhadap Allah subhanahu wa ta’ala
Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa orang yang alim ialah orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sekalipun dia tidak melihat-Nya, menyukai apa yang disukai-Nya, dan menjauhi apa yang dimurkai-Nya. Kemudian Al-Hasan membacakan firman-Nya: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.
Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Faathir [35]: 28)
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a. yang mengatakan bahwa orang yang alim itu bukanlah orang yang banyak hafal hadis, melainkan orang yang banyak takutnya kepada Allah.
Ahmad ibnu Saleh Al-Masri telah meriwayatkan dari Ibnu Wahb, dari Malik yang mengatakan, “Sesungguhnya berilmu itu bukanlah karena banyak meriwayatkan hadis, melainkan ilmu itu adalah cahaya yang dijadikan oleh Allah di dalam kalbu.” Selanjutnya Ahmad ibnu Saleh Al-Masri menjelaskan bahwa takut kepada Allah itu bukan dijumpai melalui banyak meriwayatkan hadis. Dan sesungguhnya ilmu yang diharuskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala agar diikuti hanyalah ilmu mengenai Alquran, sunnah, dan apa yang disampaikan oleh para sahabat dan orang-orang yang sesudah mereka dari kalangan para imam kaum muslim. Hal seperti ini tidak dapat diraih melainkan dengan melalui periwayatan. Dengan demikian, yang dimaksud dengan cahaya ialah pemahaman mengenai ilmu tersebut dan pengamalannya dalam realita kehidupan.
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Abu Hayyan At-Tamimi, dari seorang lelaki yang telah mengatakan bahwa ulama itu ada tiga macam, yaitu ulama yang mengetahui tentang Allah dan mengetahui tentang perintah Allah, ulama yang mengetahui tentang Allah, tetapi tidak mengetahui tentang perintah Allah, dan ulama yang mengetahui tentang perintah Allah, tetapi tidak mengetahui tentang Allah. Orang yang alim (ulama) yang mengetahui tentang Allah dan mengetahui tentang perintah Allah ialah orang yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengetahui batasan-batasan serta fardu-fardu yang telah ditetapkan-Nya. Dan orang yang alim tentang Allah, tetapi tidak alim tentang perintah Allah ialah orang yang takut kepada Allah, tetapi tidak mengetahui batasan-batasan dan fardu-fardu yang ditetapkan-Nya.
Dan orang alim tentang perintah Allah, tetapi tidak alim tentang Allah adalah orang yang mengetahui batasan-batasan dan fardu-fardu yang ditetapkan-Nya, tetapi tidak takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. (ayat 28)
4. Tafs muyassar
Apakah kamu tidak melihat bahwa Allah menurunkan hujan dari langit, lalu Kami menyiramkannya ke pohon-pohon di bumi, sehingga Kami mengeluarkan dari pohon-pohon itu buah-buahan yang bermacam-macam warnanya, ada yang merah, ada yang hitam, ada yang kuning dan ada yang lain? Dan Kami menciptakan gunung dengan keanekaragamannya, ada yang putih dan ada yang merah, dengan berbagai macam warna, dan Kami menciptakan gunung dengan batunya yang sangat hitam. (ayat 27)
Dan Kami juga menciptakan manusia, hewan-hewan, unta, sapi dan kambing dengan warna yang berbeda-beda pula. Ada yang merah, putih, hitam dan ada yang lainnya, seperti perbedaan warna buah-buahan dan gunung. Sesungguhnya yang takut kepada Allah dan membentengi diri dari azab Allah dengan menaati-Nya dan menjauhi larangan-Nya adalah para ulama, orang-orang yang mengetahui-Nya, mengetahui sifat-sifat-Nya, syariat-Nya dan kuasa-Nya atas segala sesuatu. Di antaranya adalah perbedaan makhluk-makhluk ini sekalipun penciptanya adalah satu, dan mereka merenungkan nasihat-nasihat dan pelajaran-pelajaran yang ada padanya. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Kuat yang tidak terkalahkan, Maha Pengampun membalas pahala kepada orang-orang yang menaati-Nya dan memaafkan mereka. (ayat 28)
3. Lafadz dan terjemah Az-Zumar ayat 9
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya :
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Kandungan Az-Zumar ayat 9
Az Zumar ayat 9 membandingkan antara orang-orang musrik yang mengikuti hawa nafsu dengan orang-orang beriman , serta membandingkan yang berilmu dengan yang tidak berilmu. Sebagaimana Allah SWT ingin menyampaikan bahwa bila kita pikirkan dengan hati dan akal, tentu orang-orang yang beriman, terutama mereka yang beribadah sholat diwaktu malam serta takut pada Allah SWT adalah orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang beriman dan berilmu tentu akan memilih sesuatu yang lebih besar, yaitu balasan Allah SWT yang kekal, daripada segala sesuatu yang hanya sementara saja, yaitu dunia ini.
Maka dari ayat ini bisa diambil pelajaran manusia harus menyadari bahwa keburuntungan sebenarnya adalah balasan kebaikan di akhirat kelak, dimana amal baik akan mengahantar kepada kebahagian yang selama-lamanya dan amal buruk menghantarkan pada kesusahan selama-lamanya. Bukan takaran dunia, karena bahagia, sedih, kaya, miskin, sehat, sakit di dunia hanya sementara saja.
Penafsiran Az-Zumar ayat 9
1. Tafs al-Misbah
(Apakah orang) dibaca Amman, dan dapat dibaca Aman (yang beribadah) yang berdiri melakukan amal ketaatan, yakni salat (di waktu-waktu malam) di saat-saat malam hari (dengan sujud dan berdiri) dalam salat (sedangkan ia takut kepada hari akhirat) yakni takut akan azab pada hari itu (dan mengharapkan rahmat) yakni surga (Rabbnya) apakah dia sama dengan orang yang durhaka karena melakukan kekafiran atau perbuatan-perbuatan dosa lainnya. Menurut qiraat yang lain lafal Amman dibaca Am Man secara terpisah, dengan demikian berarti lafal Am bermakna Bal atau Hamzah Istifham (Katakanlah, "Adakah sama orang-orang yong mengetahui dengan orang-orang yong tidak mengetahui?") tentu saja tidak, perihalnya sama dengan perbedaan antara orang yang alim dan orang yang jahil. (Sesungguhnya orang yang dapat menerima pelajaran) artinya, man menerima nasihat (hanyalah orang-orang yang berakal) yakni orang-orang yang mempunyai pikiran.
2. Tafsir Jalalain
Apakah orang yang menghabiskan waktunya di tengah malam untuk bersujud dan salat dengan penuh khusyuk kepada Allah, takut akhirat dan mengharap rahmat dan kasih sayang-Nya, itu sama dengan orang yang berdoa kepada-Nya saat tertimpa musibah lalu melupakan-Nya saat mendapat kemenangan? Katakan kepada mereka, "Apakah sama orang-orang yang mengetahui hak-hak Allah lalu mengesakan-Nya dengan orang-orang yang tidak mengetahui-Nya, karena menganggap remeh perintah untuk mengamati tanda- tanda kekuasaan-Nya? Hanya orang yang berakal sehat saja yang dapat mengambil pelajaran.
(Apakah orang) dibaca Amman, dan dapat dibaca Aman
(yang beribadah) yang berdiri melakukan amal ketaatan, yakni salat
(di waktu-waktu malam) di saat-saat malam hari
(dengan sujud dan berdiri) dalam salat
(sedangkan ia takut kepada hari akhirat) yakni takut akan azab pada hari itu
(dan mengharapkan rahmat) yakni surga
(Rabbnya) apakah dia sama dengan orang yang durhaka karena melakukan kekafiran atau perbuatan-perbuatan dosa lainnya. Menurut qiraat yang lain lafal Amman dibaca Am Man secara terpisah, dengan demikian berarti lafal Am bermakna Bal atau Hamzah Istifham
(Katakanlah,“Adakah sama orang-orang yong mengetahui dengan orang-orang yong tidak mengetahui?”) tentu saja tidak, perihalnya sama dengan perbedaan antara orang yang alim dan orang yang jahil.
(Sesungguhnya orang yang dapat menerima pelajaran) artinya, mau menerima nasihat (hanyalah orang-orang yang berakal) yakni orang-orang yang mempunyai pikiran.
3. Tafs Ibnu Katsir
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa apakah orang yang mempunyai sifat demikian sama dengan orang yang mempersekutukan Allah dan menjadikan bagi-Nya tandingan-tandingan?
Jawabannya tentu tidak sama di sisi Allah.
Seperti yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Mereka itu tidak sama : diantara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka mambaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedangkan mereka juga bersujud (salat). (Ali Imran,: 113)
Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
(Apakah kamu, hai orang musyrik, yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri. (QS. Az-Zumar [39]: 9)
Yakni dalam keadaan sujud dan berdirinya mereka berqunut. Karena itulah ada sebagian ulama yang berdalilkan ayat ini mengatakan bahwa qunut ialah khusyuk dalam salat bukanlah doa yang dibacakan dalam keadaan berdiri semata, yang pendapat ini diikuti oleh ulama lainnya.
As-Sauri telah meriwayatkan dari Firas, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq, dari Ibnu Mas’ud r.a. yang mengatakan bahwa al-qanit artinya orang yang selalu taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.
Ibnu Abbas r.a, Al-Hasan, As-Saddi, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ana-al lail ialah tengah malam, yakni waktu-waktu tengah malam.
As-Sauri telah meriwayatkan dari Mansur yang mengatakan, bahwa telah sampai kepadanya bahwa makna yang dimaksud ialah waktu malam yang terletak antara Magrib dan Isya.
Al-Hasan dan Qatadah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ana-al lail ialah permulaan, pertengahan, dan akhirnya.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Sedangkan ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya.
(QS. Az-Zumar [39]: 9)
Yaitu dalam ibadahnya ia takut dan berharap kepada Allah.
Dan merupakan suatu keharusan dalam ibadah terpenuhinya hal ini, juga hendaknya perasaan takut kepada Allah mendominasi sebagian besar dari masa hidupnya.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya : sedangkan ia takut kepada (azab) hari akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya. (QS. Az-Zumar [39]: 9)
Dan apabila sedang menjelang ajal, hendaklah rasa harap lebih menguasai diri yang bersangkutan, seperti yang dikatakan oleh Imam Abdu ibnu Humaid di dalam kitab musnadnya.
Ia mengatakan :
telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdul Hamid, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ menjenguk seorang lelaki yang sedang menjelang ajalnya, lalu beliau bertanya,
“Bagaimanakah perasaanmu sekarang?” lelaki itu menjawab, “Aku berharap dan aku takut (kepada azab Allah).”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda : Tidaklah terhimpun perasaan ini pada kalbu seseorang hamba dalam keadaan seperti ini, melainkan Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kepadanya apa yang diharapkannya dan mengamankannya dari apa yang ditakutinya.
Imam Turmuzi dan Imam Nasai di dalam kitab Al-Yaum wal Lailah telah meriwayatkan hadis ini, serta Imam Ibnu Majah ; semuanya melalui hadis Sayyar ibnu Hatim, dari Ja’far ibnu Sulaiman dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib. Sebagian dari mereka meriwayatkannya melalui Sabit, dari Anas, dari Nabi ﷺ secara mursal.
Ibnu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Abu Syaibah, dari Ubaidah An-Numairi, telah menceritakan kepada kami Abu Khalaf ibnu’Abdullah ibnu Isa Al-Kharraz, telah menceritakan kepada kami Yahya Al-Bakka, bahwa ia pernah mendengar Ibnu Umar r.a. membaca ayat berikut, yaitu firman-Nya : (Apakah kamu, hai orang musyrik, yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? (QS. Az-Zumar [39]: 9) Lalu ia berkata bahwa dialah Usman ibnu Affan r.a.
Dan sesungguhnya Ibnu Umar r.a. mengatakan demikian karena ia melihat Amirul Mu-minin Usman r.a. banyak mengerjakan salat di malam hari, juga banyak membaca Alquran, bahkan sering ia membaca Alquran dalam satu rakaat, seperti yang telah diriwayatkan oleh Abu Ubaidah dari Ibnu Umar r.a.
Imam Ahmad mengatakan bahwa Ar-Rabi’ ibnu Nafi’ pernah berkirim surat kepadanya yang isinya menyebutkan, telah menceritakan kepada kami Al-Haisam ibnu Humaid, dari Yazid ibnu Waqid, dari Sulaiman ibnu Musa, dari Kasir ibnu Murrah, dari Tamim Ad-Da’ri r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang membaca seratus ayat dalam semalam, maka dicatatkan baginya pahala qunut semalam suntuk.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai di dalam kitab Al-Yaum wal Lailah-nya dari Ibrahim ibnu Ya’qub, dari Abdullah ibnu Yusuf dan Ar-Rabi’ ibnu Nafi’, keduanya dari Al-Haisam ibnu Humaid dengan sanad yang sama.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar [39]: 9)
Maksudnya, apakah orang yang demikian sama dengan orang yang sebelumnya yang menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah?
(Jawabannya tentu saja tidak sama).
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar [39]: 9)
Yakni sesungguhnya yang mengetahui perbedaan antara golongan ini dan golongan yang sebelumnya hanyalah orang yang mempunyai akal ; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
4. Tafsir Muyassar
Apakah orang kafir yang menikmati kekufurannya ini lebih baik, ataukah seseorang yang beribadah kepada Rabb-nya dan taat kepada-Nya, menghabiskan malamnya dalam shalat dan sujud kepada Allah, takut kepada azab akhirat dan berharap rahmat Rabb-Nya? Katakanlah wahai Rasul : Apakah sama orang-orang yang mengetahui Rabb mereka dan agama mereka yang haq dengan orang-orang yang tidak mengetahui apa pun tentang hal itu? Tidak sama. Hanya orang-orang yang berakal lurus yang mengetahui perbedaannya.
4. Lafa dan terjemah An-Naml ayat 40
قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُ قَالَ هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
Artinya :
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".
Kandungan An-Naml ayat 40
Dalam ayat itu di jelaskan bahwa pembantu nabi sulaiman yang mempunyai mukjizat berkata bahwa dia akan menghantar singgasana dalam sekejap mata agar dia bersyukur atau tidak terhadap karunianya kaitan nya adalah sikap kokoh pada pendirian,dan pendirian nya itu adalah percaya terhadap karunia allah dan tidak berfikir itu adalah kekuatan magis tetapi percaya dan mengimani bahwa itu adalah kuasa dari tuhan nya
Penafsiran An-Naml ayat 40
1. Tafsir al-Misbah
Seorang manusia yang diberi kekuatan spiritual dan ilmu dari kitab berkata,
“Aku akan mendatangkan singgasana itu lebih cepat lagi : sebelum Paduka mengedipkan mata.”
Benar, orang itu langsung melakukan apa yang dikatakannya.
Ketika Sulayman menyaksikan istana megah berdiri tegak di hadapannya, ia berkata,
“Ini, sungguh, sebagian nikmat Allah yang telah menciptakanku, memberikan pertolongan kepadaku dengan karunia-Nya, untuk mengujiku apakah aku mau mensyukuri nikmat-nikmat itu atau tidak.
Barangsiapa bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah terlepas dari beban kewajiban.
Dan barangsiapa tidak mau mensyukuri nikmat, maka sesungguhnya Tuhan tidak membutuhkan syukur.
Tuhanku Maha Pemurah dengan nikmat-nikmat-Nya.”
2. Tafs Jalalain
(Seorang yang mempunyai ilmu dari Al kitab) yang diturunkan (berkata,) ia bernama Ashif ibnu Barkhiya, dia terkenal sangat jujur dan mengetahui tentang asma Allah Yang Teragung, yaitu suatu asma apabila dipanjatkan doa niscaya doa itu dikabulkan.
(“Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”) jika kamu tujukan pandanganmu itu kepada sesuatu.
Maka Ashif berkata kepadanya, “Coba lihat langit itu”, maka Nabi Sulaiman pun menujukkan pandangannya ke langit, setelah itu ia mengembalikan pandangannya ke arah semula sebagaimana biasanya, tiba-tiba ia menjumpai singgasana ratu Balqis itu telah ada di hadapannya.
Ketika Nabi Sulaiman mengarahkan pandangannya ke langit, pada saat itulah Ashif berdoa dengan mengucapkan Ismul A’zham, seraya meminta kepada Allah supaya Dia mendatangkan singgasana tersebut, maka dikabulkan permintaan Ashif itu oleh Allah. Sehingga dengan seketika singgasana itu telah berada di hadapannya.
Ibaratnya Allah meletakkan singgasana itu di bawah bumi, lalu dimunculkan-Nya di bawah singgasana Nabi Sulaiman.
(Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak) telah berada (di hadapannya, ia pun berkata, “Ini) yakni didatangkannya singgasana itu untukku (termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku) untuk menguji diriku (apakah aku bersyukur) mensyukuri nikmat, lafal ayat ini dapat dibaca Tahqiq dan Tas-hil (atau mengingkari) nikmat-Nya
(Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya) artinya pahalanya itu untuk dirinya sendiri (dan barang siapa yang ingkar) akan nikmat-Nya
(maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya) tidak membutuhkan kesyukurannya
(lagi Maha Mulia”) yakni tetap memberikan kemurahan kepada orang-orang yang mengingkari nikmat-Nya.
3. Tafsir Ibnu Katsir
Firman Allah subhanahu wa ta’ala : Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab. (QS. An-Naml [27]: 40)
Ibnu Abbas mengatakan bahwa nama orang itu adalah Asif, sekretaris Nabi Sulaiman.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Muhammad ibnu Ishaq, dari Yazid ibnu Ruman yang telah mengatakan bahwa nama orang tersebut adalah Asif ibnu Barkhia, dia adalah seorang yang jujur lagi mengetahui Ismul A’zam.
Qatadah mengatakan bahwa nama orang tersebut adalah Asif, seorang yang beriman dari kalangan manusia. Hal yang sama telah dikatakan oleh Abu Saleh, Ad-Dahhak, dan Qatadah, bahwa dia adalah seorang manusia. Qatadah menyebutkan keterangan yang lebih lengkap, bahwa orang itu berasal dari Bani Israil. Mujahid mengatakan bahwa nama orang itu adalah Astum.
Menurut Qatadah dalam riwayat lain yang bersumber darinya, menyebutkan bahwa nama orang itu adalah Balikha.
Zuhair ibnu Muhammad mengatakan, dia adalah seorang lelaki yang dikenal dengan nama Zun Nur. Abdullah ibnu Lahi’ah menduga bahwa lelaki tersebut adalah Khidir, tetapi pendapatnya ini aneh sekali.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala : Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip. (QS. An-Naml [27]: 40)
Orang itu berkata kepada Sulaiman ‘alaihis salam, “Angkatlah pandangan matamu ke atas dan lihatlah sejauh matamu memandang, maka sesungguhnya bila matamu merasa lelah dan berkedip, singgasana itu telah berada di hadapanmu.”
Wahb ibnu Munabbih mengatakan, “Layangkanlah pandangan matamu sejauh mataku memandang, maka sebelum pandangan matamu mencapai pemandangan yang terjauh, aku telah dapat mendatangkan singgasana itu.” Para ulama menyebutkan bahwa Asif meminta kepada Sulaiman ‘alaihis salam agar memandang ke arah negeri Yaman tempat singgasana itu terdapat, lalu Asif berwudu dan berdoa kepada Allah. Mujahid mengatakan bahwa Asif mengatakan dalam doanya, “Ya Zal Jalali Wal Ikram,”
yang artinya “Ya Tuhan yang memiliki keagungan dan kemuliaan”.
Az-Zuhri mengatakan bahwa Asif mengatakan dalam doanya,
“Ya Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Engkau, datangkanlah ‘Arasynya kepadaku.”
Maka seketika itu juga singgasana (‘Arasy)nya berada di hadapannya.
Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Muhammad ibnu Ishaq, Zuhair ibnu Muhammad, dan lain-lainnya mengatakan bahwa setelah berdoa memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar singgasana Balqis didatangkan di hadapannya, saat itu singgasana berada di negeri Yaman, sedangkan Nabi Sulaiman berada di Baitul Maqdis, maka singgasana Balqis hilang dan masuk ke dalam tanah kemudian muncul di hadapan Sulaiman ‘alaihis salam
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, Sulaiman tidak menyadari bahwa singgasana Balqis dalam sekejap mata telah berada di hadapannya. Dan yang membawa ke hadapannya adalah salah seorang dari hamba Allah yang ada di laut.
Setelah singgasana Balqis berada di hadapannya dan para pembesar kerajaannya menyaksikan hal itu, ia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku.” (QS. An-Naml [27]: 40)
Yaitu ini adalah nikmat Allah yang diberikan kepadaku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. (QS. An-Naml [27]: 40)
Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan: Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri. (QS. Fushshilat [41]: 46) dan barang siapa yang beramal saleh, maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan). (QS. Ar-Rum [30]: 44)
Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala : Dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha kaya lagi Mahamulia. (QS. An-Naml [27]: 40)
Artinya Allah Maha kaya, tidak memerlukan hamba-hamba-Nya dan juga penyembahan mereka,
lagi Mahamulia. (QS. An-Naml [27]: 40)
Zat Allah Maha Mulia, sekalipun tidak ada seseorang yang menyembah-Nya, kebesaran Allah tidak memerlukan kepada seseorang pun dari makhluk-Nya. Hal ini sama seperti yang diungkapkan oleh Musa : Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. (QS. Ibrahim [14]: 8)
Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman dalam hadis Qudsi-Nya : Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang yang pertama dan orang-orang yang terkemudian dari kalian, baik manusia maupun jin semuanya bertakwa seperti seseorang yang paling bertakwa di antara kalian, maka hal itu sama sekali tidak menambah apa pun di dalam kerajaan-Ku. Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang yang pertama dari kalian dan yang terkemudian baik manusia maupun jin semuanya durhaka seperti orang yang paling durhaka di antara kalian, maka hal itu sama sekali tidak mengurangi sedikit pun dalam kerajaan-Ku.
Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya hal itu hanyalah amal perbuatan kalian, Akulah yang menghitung hitungnya bagi kalian, kemudian Aku tunaikan bagi kalian pembalasannya.
Barang siapa yang menjumpai kebaikan (dalam balasannya), hendaklah ia memuji kepada Allah, dan barang siapa yang menjumpai selain dari itu, maka jangan sekali-kali ia mencela kecuali dirinya sendiri.
4. Tafsir Muyassar
Seorang yang memiliki ilmu tentang al-Kitab berkata : “Saya akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kelopak matamu berkedip bila ia berkedip untuk melihat sesuatu.:
Maka Sulaiman mengizinkannya lalu ia berdoa kepada Allah dan ia pun bisa menghadirkannya.
Manakala Sulaiman melihatnya hadir dan ada di sisinya, dia berkata: “Ini termasuk karunia Rabb-ku yang telah menciptakanku dan menciptakan alam semesta seluruhnya, untuk mengujiku apakah aku bersyukur dengan mengakui nikmat-nikmat Allah kepadaku, atau kufur dan tidak bersyukur?”
Barangsiapa yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah maka manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri. Sebaliknya barangsiapa yang ingkar dan menolak untuk bersyukur, maka Rabb-ku sama sekali tidak memerlukan syukurnya.
Dia Maha Pemurah, kebaikan-Nya mencakup seluruh dunia, yang bersyukur maupun kufur, kemudian menghisab dan membalas mereka di akhirat.
BAB lll
PENUTUP
Kesimpulan
Wahai jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, lakukanlah. Namun, kalian tidak akan sanggup melakukannya kecuali dengan kekuatan dan hujah. Urusan itu adalah dari Allah. Kalian tidak mampu mendatangkan manfaat dan mudarat bagi diri sendiri.
Dan Kami menciptakan gunung dengan keanekaragamannya, ada yang putih dan ada yang merah, dengan berbagai macam warna, dan Kami menciptakan gunung dengan batunya yang sangat hitam.
Dan Kami juga menciptakan manusia, hewan-hewan, unta, sapi dan kambing dengan warna yang berbeda-beda pula. Ada yang merah, putih, hitam dan ada yang lainnya, seperti perbedaan warna buah-buahan dan gunung. Sesungguhnya yang takut kepada Allah dan membentengi diri dari azab Allah dengan menaati-Nya dan menjauhi larangan-Nya adalah para ulama, Orang-orang yang mengetahui-Nya, mengetahui sifat-sifat-Nya, syariat-Nya dan kuasa-Nya atas segala sesuatu. Di antaranya adalah perbedaan makhluk-makhluk ini sekalipun penciptanya adalah satu, dan mereka merenungkan nasihat-nasihat dan pelajaran-pelajaran yang ada padanya. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Kuat yang tidak terkalahkan, Maha Pengampun membalas pahala kepada orang-orang yang menaati-Nya dan memaafkan mereka.
Apakah orang kafir yang menikmati kekufurannya ini lebih baik, ataukah seseorang yang beribadah kepada Rabb-nya dan taat kepada-Nya, menghabiskan malamnya dalam shalat dan sujud kepada Allah, takut kepada azab akhirat dan berharap rahmat Rabb-Nya? Katakanlah wahai Rasul : Apakah sama orang-orang yang mengetahui Rabb mereka dan agama mereka yang haq dengan orang-orang yang tidak mengetahui apa pun tentang hal itu? Tidak sama. Hanya orang-orang yang berakal lurus yang mengetahui perbedaannya.
Barangsiapa yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah maka manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri. Sebaliknya barangsiapa yang ingkar dan menolak untuk bersyukur, maka Rabb-ku sama sekali tidak memerlukan syukurnya. Dia Maha Pemurah, kebaikan-Nya mencakup seluruh dunia, yang bersyukur maupun kufur, kemudian menghisab dan membalas mereka di akhirat.
Saran
Pada makalah ini terdapat banyak kekurangan, baik dari segi susunan kata, penulisan, dan lain sebagainya. Maka kami sebagai penulis mohon maaf sebesar-besarnya atas kekurangan kami dan kami juga mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Semoga dengan kritik dan saran yang diberikan bisa kami jadikan pelajaran untuk memperbaiki makalah yang kami buat kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
al-Mahalli, Jalaluddin, Jalaluddin as-Suyuthi, Terjemah Tafsir Jalalain (pdf)
Al-Sheikh, DR. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta : Pustaka Imam Syafi'i, 2005 (pdf)
Al-Sheikh, Sholeh bin Abdulaziz bin Muhammad, Tafsir Muyassir, Madinah : 2013 (pdf)
Shihab, Muhammad Qurais, Tafsir Al-Misbah, (pdf)
https://risalahmuslim.id/quran/an-naml/27-40/
https://risalahmuslim.id/quran/ar-rahmaan/55-33/
https://risalahmuslim.id/quran/az-zumar/39-9/
https://risalahmuslim.id/quran/faathir/35-27/
https://risalahmuslim.id/quran/faathir/35-28/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar