KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr Wb...
Puji syukur kami panjatkan ke Hadirat Alloh SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa melimpahkan Rahmat dan Ridho-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah materi mata kuliah Filsafat Ilmu yang berjudul “Tujuan Pendidikan”.
Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membagun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam adanya makalah ini. Semoga Alloh SWT memberikan yang terbaik bagi kita semua. Aamiin...
Wassalamualaikum Wr Wb...
Tim Penyusun : Kelompok 6
DAFTAR ISI
Sampul..........................................................................................................................1
Kata Pengantar..............................................................................................................2
Daftar Isi.......................................................................................................................3
BAB I : Pendahuluan
Latar Belakang...................................................................................................4
Rumusan Masalah..............................................................................................4
Tujuan Penulisan................................................................................................4
BAB II : Pembahasan
Isi Kandungan Q.S an-Nahl Ayat 33-34
Teks Ayat……………………………………………………………………5
Mufradat……..…………………………………………………………........5
Asbabun Nuzul………………………………………………………………5
Penafsiran……………………………………………………………………6
Kandungan Ayat……………………………………………………………14
Isi Kandungan Q.S al-Kahfi Ayat 65-70
Teks Ayat………………………………………………………………….15
Mufradat……..……………………………………………………………15
Asbabun Nuzul……………………………………………………………16
Penafsiran…………………………………………………………………17
Kandungan Ayat…………………………………………………………..
BAB III : Penutup
Kesimpulan……………………………………………………………….……...29
Saran……………………………………………………………………………..29
Daftar Pustaka.............................................................................................................30
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan adalah salah satu unsur pendukung dan menjadi tolak ukur maju dan mundurnya suatu bangsa, baik dan buruknya suatu peradaban. Maka jika suatu pendidikan itu baik maka, akan baik pula peradabanya begitupun sebaliknya.
Maka dari itu, keilmuan seharusnya di tangani secara serius, lewat sekolah-sekolah formal yang di jadikan sebagai tempat untuk mendidik generasi-generasi bangsa supaya, menjadi manusia-manusia yang berguna bagidirinya, orang lain, lebih-lebih untuk agamanya.
Tentunya ilmu yang tidak di ragukan lagi keshahihan yaitu isi kandungan firman Allah, atau yang sering kita sebut dengan mushaf usmani (Al-Qur’an). Dimana al-qur’an ini adalah kitab umat islam yang di jadikan sebagai pedoman hidup nya, yang dimana di dalam Al-Qur’an tersebut terkandung ayat-ayat Al-Quran yang membahas berbagai macam hal dan salah satunya membahas tentang ayat-ayat subyek pendidikan.
Oleh karena itu lewat pembuatan makalah ini kami dari kelompok tiga ingin mencoba mengali tentang makna dari ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas mengenai subyek pendidikan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah penjelasan Al-Qur’an, surat an-Nahl ayat 43-44 ?
2. Bagaimanakah penjelasan Al-Qur’an, surat al-Kahfi ayat 65-70 ?
4. Bagaimana Asbabul Nuzulnya ?
C. TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi.
2. Memberikan referensi dan pengetahuan bagi penulis dan pembaca tentang subjek pendidikan dalam Al-Qur’an.
BAB II
PEMBAHASAN
Isi Kandungan Q.S an-Nahl ayat 43-44
Teks Ayat
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (33)
بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نزلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (34)
Artinya : 43. Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. 44. Dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.
Mufradat
رِجَالٌ : orang-orang lelaki.
أَهْلُ الذِّكْرِ : para pemuka agama Yahudi dan Nasrani.
إِنْ : jika
اَلزُّبُرُ : tulisan/kitab-kitab yang ditulis, seperti Taurat, Injil, Zabur, dan Shuhuf Ibrahim.
اَلذِّكْرُ : salah satu nama Alquran. Dari segi bahasa adalah antonim kata lupa.
Asbabun Nuzul
Ibnu Jarir at-Tabarī dan Ibnu Hatm meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia berkata, “Ketika Allah mengutus Muhammad sebagai Nabi, orang Arab mengingkarinya. Kemudian turunlah ayat ini ().
Ketika Muhammad bin Abdillah diangkat sebagai Rasulullah, orang-oran Arab mengingkarinya. Mereka mengatakan “adakah Allah Yang Maha Agung mengutus seorang anak manusia sebagai utusanNya ? sehubungan dengan itu, Allah juga menurunkan ayat ke-2 dari surah Yunus.
Kemudian Allah juga menurunkan ayat ke-43-47 ini sebagai pelemah bagi mereka. Allah tidak saja mengutus Muhammad sebagai Rasul tetapi di kalangan orang-orang terdahulu pun telah diutus para umat yang hadir dari tengah kaum mereka. Dan, bagi mereka yang tetap membangkan dari dakwah Rasulullah, balasannya adalah api neraka. Bahkan tidak jarang yang mendapat musibah di dunia.
Penafsiran Q.S an-Nahl ayat 43-44
Tafsir Al-Azhar ( Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) )
“Dan tidaklah Kami mengutus sebelum engkau, melainkan orang-orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka”. Hal ini mengandung peringatan kembali kepada beliau, bahwa Rasul Allah sebelumnya juga sama seperti dirinya. Mempunyai isi pengajaran yang sama, bahkan nasib pertentangannya pun banyak yang sama. Sebab mereka itu semua adalah manusia, orang laki-laki yang tidak lepas dari suka dan duka. Kemudian Nabi saw. disuruh untuk menyampaikan kepada orang-orang itu: “Maka bertanyalah kepada ahli-ahli yang telah mempunyai peringatan, jika kamu belum mengetahui”. Kalau masih kurang percaya akan hal itu, mereka boleh menanyakan kepada Ahlu Al-Żikri, ahli peringatan yaitu orangorang Yahudi dan Nasrani yang telah menerima kitab-kitab ajaran dari Nabi-nabi yang dahulu itu. Kalau mereka orang yang jujur, niscaya mereka akan beritahukan hal yang sebenarnya. Ahlu Al-Żikri disini adalah orang yang ahli peringatan, atau orang yang berpengatahuan lebih luas. Umum artinya adalah menyuruh orang yang tidak tahu untuk bertanya kepada yang lebih tahu, karena ilmu pengetahuan itu adalah umum sifatnya, berfaedah buat mencari kebenaran ().
Menurut yang dirawikan oleh Mujahid dari Ibnu Abbas bahwa Ahlu Al-Żikri disini maksutnya ialah Ahlu AlKitab. Sebelum Ahlu Al-Kitab itu dipengaruhi oleh nafsu ingin menang sendiri, mereka akan mengakui bahwa Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang terdahulu itu semuanya adalah manusia belaka, manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah. Dengan ayat ini kita mendapat pengertian bahwasanya kita boleh menuntut ilmu kepada ahlinya, dimana saja dan siapa saja, sebab yang kita cari ialah kebenaran. Ulama besar Syi’ah yang terkenal, cucu Rasulullah saw. Ja’far Al-Baqir, menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan Ahlu Al-Żikri ialah kita sendiri, yaitu ulama dari umat ini sehingga mereka berhak disebut sebagai Ahlu Al-Żikri. Diantara kedua tafsir mengenai Ahlu Al-Żikri tidaklah berlawanan. Dalam hal mengenai ilmu ilmu Agama Islam sendiri, kita dapat bertanya kepada Ahlu AlŻikri dalam hal Islam, dan ilmu-ilmu yang lain yang lebih umum kita tanyai pula kepada Ahlu Al-Żikrinya sendiri; tandanya kita berfaham luas dan berdada lapang. Nabi-nabi dan Rasul-rasul itu diutus Tuhan: “Dengan penjelasan-penjelasan dan kitab-kitab”. Penjelasan yaitu, keterangan-keterangan dan alasan untuk menguatkan pendirian bahwa Allah Ta’ala itu ada dan tunggal, tidak berserikat dengan yang lain. Sedangkan zubur, merupakan kata jama’ dari zabūr, artinya kitab-kitab. Taurat yang diturunkan kepada Musa, Injil kepada Isa, Mazmur atau Zabur kepada Daud, dan Shuhuf, yaitu catatan-catatan yang diterima nabi Ibrahim, semuanya itu disebut “zubur”. “Dan Kami turunkan kepada engkau peringatan”, yaitu Al-Qur’an “supaya engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka”. Dengan ayat ini teranglah bahwa kewajiban Nabi Muhammad saw. menyampaikan peringatan (Al-Qur’an bukanlah kewajiban yang baru sekarang, melainkan sambungan mata rantai saja dari rencana Tuhan membimbing dan memberi petunjuk kepada umat manusia yang telah dimulai sejak Adam sampai kepada berpuluh Rasul sesudahnya, sampai kepada Nabi Muhammad saw. (). “Mudah-mudahan mereka akan berfikir”. Maksud al-Qur’an atau peringatan itu yang paling utama adalah mengajak orang berfikir tentang dirinya, tentang hidupnya, tentang Tuhannya dan hubungannya dengan Tuhan ().
Tafsir Ibnu Katsir ( Ismail Bin Katsir)
Ad-Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas, bahwa setelah Allah mengutus Nabi Muhammad menjadi seorang rasul, orang-orang Arab mengingkarinya, atau sebagian dari mereka ingkar akan hal ini. Mereka mengatakan bahwa Mahabesar Allah dari menjadikan utusan-Nya seorang manusia. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya:
{أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ}
Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, "Berilah peringatan kepada manusia.” (), hingga akhir ayat.
Adapun firman Allah Swt.:
{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ}
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (An-Nahl: 43)
Maksudnya, bertanyalah kamu kepada ahli kitab yang terdahulu, apakah rasul yang diutus kepada mereka itu manusia ataukah malaikat? Jika rasul-rasul yang diutus kepada mereka adalah malaikat, maka kalian boleh mengingkarinya. Jika ternyata para rasul itu adalah manusia, maka janganlah kalian mengingkari bila Nabi Muhammad Saw. adalah seorang rasul.
Allah Swt. telah berfirman:
{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى}
Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang lelaki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. (Yusuf: 109)
Mereka bukanlah berasal dari penduduk langit seperti yang kalian duga.
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan ahluz zikr dalam ayat ini ialah ahli kitab. Pendapat yang sama dikatakan pula oleh Mujahid dan Al-A'masy.
Menurut Abdur Rahman ibnu Zaid, yang dimaksud dengan az-zikr ialah Al-Qur'an. Ia mengatakan demikian dengan berdalilkan firman Allah Swt. yang mengatakan:
{إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ}
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr: 9)
Pendapat ini memang benar, tetapi bukan makna tersebut yang dimaksud dalam ayat ini, mengingat orang yang menentang tidak dapat dijadikan sebagai rujukan untuk membuktikannya sesudah ia sendiri mengingkarinya. Hal yang sama dikatakan oleh Abu Ja'far Al-Baqir, bahwa kami adalah ahli zikir.
Maksud ucapannya ialah bahwa umat ini adalah ahluz zikir memang benar, mengingat umat ini lebih berpengetahuan daripada umat-umat terdahulu. Lagi pula ulama yang terdiri atas kalangan ahli bait Rasulullah Saw. adalah sebaik-baik ulama bila mereka tetap pada sunnah yang lurus, seperti Ali ibnu Abu Talib, Ibnu Abbas, kedua anak Ali (Hasan dan Husain), Muhammad ibnul Hanafiyah, Ali ibnul Husain Zainal Abidin, dan Ali ibnu Abdullah ibnu Abbas, dan Abu Ja'far Al-Baqir yang nama aslinya ialah Muhammad ibnu Ali ibnul Husain, sedangkan Ja'far adalah nama putranya. Begitu pula ulama lainnya yang semisal dan serupa dengan mereka dari kalangan ulama-ulama yang berpegang kepada tali Allah yang kuat dan jalan-Nya yang lurus. Dia mengetahui hak tiap orang serta menempatkan kedudukan masing-masing sesuai dengan apa yang telah diberikan kepadanya oleh Allah dan RasulNya, dan telah disepakati oleh hati hamba-hamba-Nya yang beriman.
Kesimpulan dari makna ayat ini ialah bahwa para rasul terdahulu sebelum Nabi Muhammad Saw. adalah manusia, sebagaimana Nabi Muhammad sendiri juga seorang manusia, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
{قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلا بَشَرًا رَسُولا وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى إِلا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولا}
Katakanlah, "Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka, "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?” (Al-Isra: 93-94)
{وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الأسْوَاقِ}
Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. (Al-Furqan: 20)
وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لَا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ
Dan tidaklah Kami menjadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal. (Al-Anbiya: 8)
{قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ}
Katakanlah, "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul.” (Al-Ahqaf: 9)
{قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ}
Katakanlah, "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku.” (Al-Kahfi: 110)
Kemudian Allah Swt. memberikan petunjuk kepada orang-orang yang meragukan bahwa rasul-rasul itu adalah manusia, agar mereka bertanya kepada ahli kitab terdahulu tentang para nabi yang terdahulu, apakah mereka dari kalangan manusia ataukah dari kalangan malaikat?
Kemudian Allah Swt. menyebutkan bahwa Dia mengutus mereka yaitu:
{بِالْبَيِّنَاتِ}
dengan membawa keterangan-keterangan. (An-Nahl: 44)
Yakni hujah-hujah dan dalil-dalil.
{وَالزُّبُرِ}
dan kitab-kitab. (An-Nahl: 44)
Demikianlah menurut pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak, dan yang lainnya. Az-zubur adalah bentuk jamak dari zabur. Orang-orang Arab mengatakan zabartul kitaba, artinya saya telah menulis kitab.
Allah Swt. telah berfirman:
{وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ}
Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. (Al-Qamar. 52)
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الأرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. (Al-Anbiya: 105)
Adapun firman Allah Swt.:
{وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ}
Dan Kami turunkan kepadamu Az-Zikr. (An-Nahl: 44)
Maksudnya, kitab Al-Qur'an.
{لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نزلَ إِلَيْهِمْ}
agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. (An-Nahl: 44)
Yakni dari Tuhannya, karena kamu telah mengetahui makna apa yang telah diturunkan oleh Allah kepadamu-, dan karena keinginanmu yang sangat kepada Al-Qur'an serta kamu selalu mengikuti petunjuknya. Karena Kami mengetahui bahwa kamu adalah makhluk yang paling utama, penghulu anak Adam, maka sudah sepantasnya kamu memberikan keterangan kepada mereka segala sesuatu yang global, serta memberi penjelasan tentang hal-hal yang sulit mereka pahami.
dan supaya mereka memikirkan. (An-Nahl: 44)
Maksudnya, agar mereka merenungkannya buat diri mereka sendiri, lalu mereka akan mendapat petunjuk dan akhirnya mereka beroleh keberuntungan di dunia dan akhirat (berkat Al-Qur'an).
Tafsir al-Qurthubi ( Abu Abdullah Muhammad Bin Abu Bakr Al-Anshari al-Qurthubi)
Para ulama’ menjadikan kata ( زجال) rijal pada ayat ini sebagai alasan untuk menyatakan bahwa semua manusia yang diangkat Allah sebagai Rosul adalah pria, dan tidak satupun yang wanita. Memang dari segi bahasa, kata rijal yang merupakan bentuk jama’ dari kata (زجم ( rajul seringkali dipahami dalam arti lelaki. Namun demikian, terdapat ayatayat al-Qur’an yang mengesankan bahwa kata tersebut tidak selalu dalam arti jenis() kelamin lelaki. Ia digunakan untuk menunujuk manusia yang memiliki keistimewahan atau ketokohan atau ciri tertentu yang membedakan mereka dari yang lain. Bacalah misalnya firman-Nya: dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.(QS. Al-Jinn: 6) Atau firman-Nya dalam QS. AlA’raf ayat 48 yang berbicara tentang lelaki yang berada di al-A’raf. Tentu saja yang dimaksud disini bukan hanya lakilaki, tetapi juga perempuan.
Kata (انركس َاهم) ahl-adz-dzikri pada ayat ini dipahami oleh banyak Ulama’ dalam arti para pemuka agama Yahudi dan Nasrani. Mereka adalah orang-orang yang dapat memberi informasi tentang kemanusiaan para Rasul yang diutus Allah. Mereka wajar ditanyai karena mereka tidak dapat dituduh berpihak pada informasi al-qur’an sebab mereka juga termasuk yang tidak memepecayainya. Kendati demikian, persoalan kemanusiaan para Rasul, mereka akui. Ada juga yang memahami 28 M.() istilah ini dalam arti sejarahwan, baik muslim ataupun non muslim.
Kata (ان )in/ jika pada ayat diatas, yang biasanya digunakan menyanggkut sesuatu yang tidak pasti atau diragukan, mengisyaratkan bahwa persoalan yang dipaparkan oleh nabi saw dan al-qur’an sudah demikian jelas sebingga diragukan adanya ketidaktahuan dan, dengan demikian, penolakan yang dilakukan kaum musyrikin itu bukan lahir dari ketidaktahuan, tetapi dari sikap keras kepala.
Walaupun penggalan ayat ini turun dalam konteks tertentu, yakni objek pertanyaan, serta siapa yang ditanya tertentu pula, karena redaksinya yang bersifat umum, ia dapat dipahami pula sebagai perintah bertanya apa saja yang tidak diketahui atau diragukan kebenarannya kepada siapapun yang tahu dan tidak tertuduh objektifitasnya. Disisi lain, perintah untuk bertanya kepada ahlu kitab-yang dalam ayat ini mereka digelari ahl adz-dzikr menyangkut apa yang tidak diketahui, selama mereka dinili berpengetahuan dan objekyif, menunjukkan betapa Islam sangat terbuka dalam perolehan pengetahuan. memang, seperti sabda nabi saw.: "hikmah adalah sesuatu yang didambakan seorang mukmin, dimanapun dia menemukannya, dia yang lebih wajar mengambilnya." Demikian juga dengan ungkapan yang populer dinilai sebagai sabda Nabi saw. Walaupun bukan, yaitu: “tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina”. Itu semua merupakan landasan untuk menyatakan bahwa ilmu dalam pandangan Islam bersifat universal, terbuka, serta manusiawi dalam arti harus dimanfaatkan oleh dan untuk kemaslahatan seluruh manusia. Ayat diatas mengubah redaksinya dari persona ketiga menjadi persona kedua yang ditujukan langsung kepada mitra bicara, dalam hal ini adalah nabi muhammad saw. Agaknya, hal ini mengisyaratkan penghormatan kepada beliau termasuk dalam kelompok para Rosul yang diutus Allah, bahkan kedudukan beliau tidak kurang-jika enggan berkata lebih tinggi dari mereka sebagaiman dikesankan oleh ayat berikutnya.
Ayat (انصبس (az-zubur adalah jama’ dari kata (شبىز (zubur, yakni tulisan. Yang dimaksud disini adalah kitab-kitab yang ditulis, seperti Taurat, Injil, Zabur, dan shuhuf Ibrohim as. Para ulam’ berpendapat bahwa zubur adalah kitab kitab singkat yang tidak mengandung syari’at, tetapi sekedar nasihat-nasihat. Salah satu nama al-qur’an adalah (انركس (adz-dzikr yang dari segi bahasa adalah antonim kata lupa. Al-qur’an dinamai demikian karena ayat-ayatnya berfungsi mengingatkan manusia apa yang dia berpotensi melupakannya dari kewajiban, tuntutan dan peringatan yang seharusnya dia selalu ingat, laksanakan dan indahkan. Disisi lain, tuntunan dan petunjuk-petunjuknya harus pula selalu diingat dan dicamkan. Penyebutan anugerah Allah kepada nabi muhammad saw. Secara khusus dan bahwa yang dianugerahkanNya itu adalah adz-Dzikr mengesankan perbedaan kedudukan beliau dengan para nabi dan para rasul sebelumnya. Dalam konteks ini, nabi muhammad saw. Bersabda: “tidak seorang nabipun kecuali telah dianugerahi Allah apa (bukti-bukti inderawi) yang menjadikan manusia percaya padanya. Dan sesungguhnya aku dianugerahi wahyu (al-Qur’an yang bersifat immaterial dan kekal sepanjang masa), maka aku mengharap menjadi yang paling banyak pengikutnya di hari kemudian” ().
Pengulangan kata turun dua kali, yakni (انيك َاوصنىا) anzalna ilaika/kami turunkan kepadamu dan (انيهم َوصل َما) ma nuzzila ilaihim/apa yang telah diturunkan kepada mereka mengisyaratkan perbedaan penurunan yang dimaksud. Yang pertama adalah penurunan alQur’an kepada nabi muhammad saw. Yang bersifat lansung dai Allah swt. Dan dengan redaksi pilihann-Nya sendiri, sedang yang kedua adalah ditujukan kepada manusia seluruhnya. Ini adalah penjelsan-penjelasan nabi muhammad saw. Tentang al-Qur’an. Penjelasan yang dimaksud adalah berdasar wewenang yang diberikan Allah kepada nabi muhammad saw., dan wahyu atau ilhamNya yang beliau sampaikan dengan bahasa beliau dan reaksi beliau. Thabathaba’i menegaskan bahwa diturunkannya al-Qur’an kepada umat manusia dan turunnya kepada nabi muhammad saw. Adalah sama, dalam arti diturunkannya kepada manusia dan turunnya kepada nabi muhammad saw. Adalah agar mereka semua –nabi dan seluruh manusia- mengambil dan menerapkannya. Ayat ini menurutnya bermaksud menegaskan bahwa tujuan turunnya al-Qur’an adalah untuk semua manusia dan keadaanmu, wahai nabi muhammad saw serta seluruh manusia, alam hal ini sama. Kami mengarahkan pembicaraan kepadamu dan menurunkan, wahyu ini bukan untuk memberiakn kepadamu kuasa mutlak yang ghaib atau kehendak ilahiyah yang menjadikannu mampu melakukan dan menguasai segala sesuatu, tetapi wahyu itu kami turunkan kepadamu untuk dua hal. Pertama, untuk menjelaskan apa yang diturunkan secara bertahap kepada manusia karena ma’rifah ilahiah tidak dapat diperoleh manusia tanpa pelantara karena itu diutus seorang dari mereka (manusia) untuk menjelaskan dan mengajar. Kedua, adalah harapan kiranya mereka berpikir menyangkut dirimuwahai nabi agung- agar merea mengetahui bahwa apa yang engkau sampaikan itu adalah kebenaran yang bersumber dari Allah swt. Keadaan dan situasi yang menyelubungi dirimu, peristiwa-peristiwa yang menimpamu sepanjang hidup, seperti keyatiman, ketidakmampuan membaca dan menulis, ketiadaan pendidik yang baik, kemiskinan, ketebelengguan dalam lingkungan orang-orang bodoh yang tidak disentuh oleh keistimewaan peradaban, dan lain-lain, semua itu merupakan faktor-faktor yang menghalangimu mengecup setetes kesempurnaan. Tetapi Allah menurunkan kepadamu Adz-Dikr yang menantang siapapun yang ragu, dari jenis manusia dan jin, dan yang mengatasi kitab suci yang lain serta menjadi penjelas bagi segala sesuatu serta petunjuk, rahmat, bukti, serta cahaya benderang. Demikianlah kurang lebih Thabathaba’i. Pendapat ulama’ beraliran Syi’ah itu yang menjadikan objek kata yatafakkarun adalah pribadi nabi muhammad saw., berbeda dengan pendapat banyak ulama’ yang menjadikan obyeknya adalah adz-dzikr, yakni berpikir tentang Al-Qur’an. Menjadikan objeknya seperti itu-tulis Thabathaba’i-menjadikannya mengandung makna yang sama dengan kandungan penggalan sebelumnya. Pendapat Thabathaba’i ini sejalan dengan pendapat asy-Sya’rawi- ulama’ mesir dan al-Azhar kontemporer itu- yang menegaskan bahwa objek berpikir yang dimaksud adalah keadaan nabi muhammad saw. Sebelum diutus oleh Allah yang ketika itu beliau tidak dikenal sebagai sastrawan, penyair, atau penulis. Dalam tafsir Tafsir Ath-Thabari karya Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari dijelaskan firman Allah surat an-Nahl ayat 43: 39 ()” Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. Maksud firman tersebut ialah Allah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW, “Kami tidak mengutus sebelummu,wahai Muhammad, kepada suatu kaum untuk mengajak mereka mengesakan Kami dan mematuhi perintah serta larangan kami, melainkan beberapa orang laki-laki dari anak Adam yang kami beri wahyu, bukan malaikat. Tegasnya, Kami tidak mengutus Rasul kepada kaummu melainkan seperti Rasul yang Kami utus kepada umat-umat sebelum mereka, yaitu dari jenis mereka. “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan”. Disini Allah berfirman kepada orang-orang musyrik Quraisy, “jika kalian tidak mengetahui bahwa orang-orang yang kami utus kepada umat-umat sebelum kalian itu adalah laki-laki dari anak Adam, seperti Muhammad, tetapi kalian mengatakan bahwa mereka adalah malaikat, kalian mengira Allah berbicara kepada mereka melalui para malaikat, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, yaitu yang membaca kitab- kitab sebelum mereka (taurat dan Injil) serta kitab-kitab Allah lainnya yang diturunkan-Nya kepada hamba-hambaNya.
Tafsir Jalalain ( Jalaluddin as-Suyuthi & Jalaluddin al-Mahalli)
(Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka) bukannya para malaikat (maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan) yakni para ulama yang ahli dalam kitab Taurat dan kitab Injil (jika kalian tidak mengetahui) hal tersebut, mereka pasti mengetahuinya karena kepercayaan kalian kepada mereka lebih dekat daripada kepercayaan kalian terhadap Nabi Muhammad saw.
(Dengan membawa keterangan-keterangan) lafal ini berta`alluq kepada fi`il yang tidak disebutkan; artinya Kami utus mereka dengan membawa hujah-hujah yang jelas (dan kitab-kitab) yakni kitab-kitab suci. (Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr) yakni Alquran (agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang diturunkan kepada mereka) yang di dalamnya dibedakan antara halal dan haram (dan supaya mereka memikirkan) tentang hal tersebut kemudian mereka mengambil pelajaran daripadanya.
Kandungan Ayat
Kandungan umum surat an-Nahl ayat 43-44 adalah bahwa orang orang musyrik tidak membutuhkan para Nabi, karena orang orang musyrik, menganggap bahwa kebutuhan kepada Nabi berarti mengharuskan bagi mereka adanya kehidupan lain, tempat mereka dihisab, sedang mereka tidak membenarkan hal itu, karena mereka menganggap hal itu tidak masuk akal jika yang demikian itu ada.()
Dalam ayat ayat ini Allah SWT, menyajikan kesalahpahaman orang orang musyrik mengatakan, sekiranya Allah hendak mengutus seorang Rasul, maka Rasul itu bukan manusia, karena Allah maha Tinggi Maha Agung daripada Rasul-Nya, salah seorang diantara manusia, sekiranya Dia mengutus seorang Rasul kepada kami, tentu Dia mengutus malaikat. Kemudian Allah menjawab kesalahpahaman ini bahwa telah menjadi Sunnah Allah untuk mengutus para Rasul-Nya dari manusia.
Jika kalian ragu ragu pada hal itu, tanyakan pada ahli kitab. Selanjutnya Allah SWT mengancam mereka (orang-orang musyrik) akan menenggelamkan bumi bersama mereka, sebagaimana Allah telah meneggelamkan Qarun, atau mendatangkan azab dari langit, lalu membinasakan mereka secara tiba-tiba, sebagaimana Allah telah melakukannya terhadap kaum Luth, atau membinasakan mereka, ketika mereka mengadakan perjalanan dan sibuk dengan urusan duniawi.()
Jadi secara umum ayat 43 dan 44 tersebut menjelaskan tentang bagaimana ketidak percayanya seorang kaum musyrik terhadap Nabi Muhammad, yang mana beliau diutus sebagai Nabi di bumi ini, padahal dalam ayat tersebut, Allah telah menjelaskan bahwa Rasul yang diutus untuk manusia maka jenisnya sama Cuma bedanya Rasul itu diberi mu’jizat untuk menjelaskan. Dan mu’jizat yang diberikan Nabi Muhammad berupa al-Qur’an.
Isi Kandungan Q.S al-Kahfi Ayat 65-70
Teks Ayat
فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا(65) قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا(66) قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (67)وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا(68) قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا(69) قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا(70)
Artinya : Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun". Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu".
Mufradat
Maka keduanya mendapatkan فَوَجَدَا =
Seorang hamba = عَبْداً
Berkata = قَالَ
Petunjuk/Kebenaran = رَشْداً
Pengalaman/pengetahuan = خٌبْراً
Kamu akan mendapati aku =سَتَجِدُوْنِيْ
Urusan =أَمْراً
Pelajaran =ذِكْراً
Asbabun Nuzul
Asbab al-Nuzuul merupakan ilmu tentang mengetahui sebab-sebab turunnya ayat, tetapi tidak semua ayat dalam al-Quran mempunyai sebab, karena tidak semua al-Quran diturunkan karena timbul peristiwa atau karena pertanyaan. Tetapi ada diantara ayat al-Quran yang diturunkan sebagai permulaan, tanpa sebab seperti mengenai akidah, iman, kewajiban syariat Allah dan kehidupan pribadi sosial.
Karena tidak setiap ayat al-Quran tidak mengandung asbab al-Nuzuul , maka begitu pula yang terdapat pada surat al-Kahfi secara keseluruhan. Secara khusus ayat 65 sampai ayat 70 tidak ada sebab turunnya, tetapi hanya berupa riwayat yang didalamnya terdapat kisah pertemuan Nabi Musa as. dengan Bani Israil sebelum Allah swt. mempertemukan Nabi Musa as. dengan Nabi Khidir as.Sebuah riwayat sebagaimana yang dikutip oleh Wahbah Zuhaili (1991: 317 – 318) dalam kitabnya al-tafsiir al- Munir fil ‘aqidah wa syari’ah wal manhaj diterima dari Ubay bin Ka’ab ra. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa pada suatu hari Nabi Musa as. berkhutbah dihadapan kaum Bani Israil. seusai menyampaikan khutbahnya, datanglah seorang laki-laki bertanya: “Siapakah diantara manusia ini yang paling berilmu ?”. Jawab Musa “Aku”. Lalu Musa ditegur oleh Allah karena tidak memulangkan jawaban kepada Allah, sebab hanya Allah yang Maha berilmu. Kemudian Allah memberi wahyu kepada Musa bahwa ada orang yang lebih pandai dari dia, yaitu seorang laki-laki yang kini berada dikawasan pertemuan dua laut. Mendengar wahyu tersebut, tergeraklah hati Musa a.s. untuk menuntut ilmu dan hikmat dari orang yang di sebut oleh Allah, bahwa dia adalah seorang hamba-Nya yang lebih pandai dari Nabi Musa as. yaitu Nabi Khidir as. Nabi Musa bertanya kepada Allah: “Ya Rabbi bagaimanakah cara agar saya dapat menjumpai orang tersebut?”. Allah menjawab dengan firmannya: “bawalah seekor ikan dan taruhlah pada sebuah kantong sebagai suatu benda. Bila ikan itu hilang maka engkau akan menjumpainya disana”. Setelah mendengar keterangan tersebut, Nabi Musa segera menemui seorang pemuda untuk dijadikan teman dalam perjalanan tersebut dan menyuruhnya agar menyediakan seekor ikan sebagaimana telah diperintahkan oleh Allah swt. kepadanya. Menurut riwayat diatas maka dari sinilah dimulainya perjalanan Nabi Musa as. untuk menuntut ilmu dan hikmat dari orang yang di sebut oleh Allah swt., bahwa dia adalah seorang hamba-Nya yang lebih pandai dari Nabi Musa as. yaitu Nabi Khidir as.
Penafsiran Q.S al-Kahfi Ayat 65-70
Tafsir Jalalain ( Jalaluddin as-Suyuthi & Jalaluddin al-Mahalli)
فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
(Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami) yaitu Khidhir (yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami) yakni kenabian, menurut suatu pendapat, dan menurut pendapat yang lain kewalian, pendapat yang kedua inilah yang banyak dianut oleh para ulama (dan yang telah Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami) dari Kami secara langsung (ilmu). Lafadz 'ilman menjadi Maf'ul Tsani, yaitu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan masalah-masalah kegaiban. Imam Bukhari telah meriwayatkan sebuah hadis, bahwa pada suatu ketika Nabi Musa berdiri berkhutbah di hadapan kaum Bani Israel. Lalu ada pertanyaan, "Siapakah orang yang paling alim?" Maka Nabi Musa menjawab, "Aku". Lalu Allah menegur Nabi Musa karena ia belum pernah belajar (ilmu gaib), maka Allah menurunkan wahyu kepadanya, "Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba yang tinggal di pertemuan dua laut, dia lebih alim daripadamu". Musa berkata, "Wahai Rabbku! Bagaimanakah caranya supaya aku dapat bertemu dengan dia". Allah berfirman, "Pergilah kamu dengan membawa seekor ikan besar, kemudian ikan itu kamu letakkan pada keranjang. Maka manakala kamu merasa kehilangan ikan itu, berarti dia ada di tempat tersebut". Lalu Nabi Musa mengambil ikan itu dan ditaruhnya pada sebuah keranjang, selanjutnya ia berangkat disertai dengan muridnya yang bernama Yusya bin Nun, hingga keduanya sampai pada sebuah batu yang besar. Di tempat itu keduanya berhenti untuk istirahat seraya membaringkan tubuh mereka, akhirnya mereka berdua tertidur. Kemudian ikan yang ada di keranjang berontak dan melompat keluar, lalu jatuh ke laut. Lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. (Q.S. Al Kahfi, 61) Allah menahan arus air demi untuk jalannya ikan itu, sehingga pada air itu tampak seperti terowongan. Ketika keduanya terbangun dari tidurnya, murid Nabi Musa lupa memberitakan tentang ikan kepada Nabi Musa. Lalu keduanya berangkat melakukan perjalanan lagi selama sehari semalam. Pada keesokan harinya Nabi Musa berkata kepada muridnya, "Bawalah ke mari makanan siang kita", sampai dengan perkataannya, "lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali". Bekas ikan itu tampak bagaikan terowongan dan Musa beserta muridnya merasa aneh sekali dengan kejadian itu.
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
(Musa berkata kepada Khidhir, "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?)" yakni ilmu yang dapat membimbingku. Menurut suatu qiraat dibaca Rasyadan. Nabi Musa meminta hal tersebut kepada Khidhir. karena menambah ilmu adalah suatu hal yang dianjurkan.
قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا
(Dia menjawab, "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku").
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
(Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?) di dalam hadis yang telah disebutkan tadi sesudah penafsiran ayat ini disebutkan, bahwa Khidhir berkata kepada Nabi Musa, "Hai Musa! Sesungguhnya aku telah menerima ilmu dari Allah yang Dia ajarkan langsung kepadaku; ilmu itu tidak kamu ketahui. Tetapi kamu telah memperoleh ilmu juga dari Allah yang Dia ajarkan kepadamu, dan aku tidak mengetahui ilmu itu". Lafal Khubran berbentuk Mashdar maknanya kamu tidak menguasainya, atau kamu tidak mengetahui hakikatnya.
قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا
(Musa berkata, "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentang) yakni tidak akan mendurhakai (kamu dalam sesuatu urusan pun)" yang kamu perintahkan kepadaku. Nabi Musa mengungkapkan jawabannya dengan menggantungkan kemampuannya kepada kehendak Allah, karena ia merasa kurang yakin akan kemampuan dirinya di dalam menghadapi apa yang harus ia lakukan. Hal ini merupakan kebiasaan para nabi dan para wali Allah, yaitu mereka sama sekali tidak pernah merasa percaya terhadap dirinya sendiri walau hanya sekejap, sepenuhnya mereka serahkan kepada kehendak Allah.
فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا
(Dia mengatakan, "Jika kamu ingin mengikuti saya, maka janganlah kamu menanyakan kepada saya) Dalam satu qiraat dibaca dengan Lam berbaris fatah dan Nun bertasydid (tentang sesuatu) yang kamu ingkari menurut pengetahuanmu dan bersabarlah kamu jangan menanyakannya kepadaku (sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu)" hingga aku menuturkan perihalnya kepadamu berikut sebab musababnya. Lalu Nabi Musa menerima syarat itu, yaitu memelihara etika dan sopan santun murid terhadap gurunya.
Tafsir Ibnu Katsir (Ismail Bin Katsir)
Allah menceritakan tentang ucapan Musa kepada orang ‘alim, yakni Khidhir yang secara khusus diberi ilmu oleh Allah Ta’ala yang tidak diberikan kepada Musa, sebagaimana dia juga telah menganugrahkan ilmu kepada Musa yang tidak dia berikan kepada Khidhir. قال له موسى هل أتّبعك “Musa berkata kepada Khidhir: Bolehkah aku mengikutimu.” Yang demikian itu merupakan pertanyaan penuh kelembutan, bukan dalam bentuk keharusan dan pemaksaan. Demikian itulah seharusnya pertanyaan seorang pelajar kepada orang berilmu. Dan ucapan Musa (أتّبعك) “Bolehkah aku mengikutimu?” yakni menemanimu. (على أن تعلّمن ممّاعلّمت رشدا ) “supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Maksudnya, sedikit ilmu yang telah diajarkan Allah Ta’ala kepadamu agaraku dapat menjadikannya sebagai petunjuk dalam menangani urusanku, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Pada sat itu, Khidhir (قال) “Berkata” kepada Musa: (إنّك لن تستطيع معي صبرا) “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.” Maksudnya, sesungguhnya engkau tidak akan sanggup menemaniku, sebab engkau akan menyaksikan berbagai tindakanku yang bertentangan dengan syari’atmu, karena aku bertindak berdasar ilmu yang diajarkan Allah kepadaku dan tidak dia ajarkan kepadamu. Engkau juga mempunyai ilmu diajarkan Allah kepadamu tetapi tidak dia ajarkan kepadaku. Dengan demikian, masing-masing kita dibebani berbagai urusan dari-Nya yang saling berbeda, dan engkau tidak akan sanggup menemaniku. (وكيف تصبرعلى مالم تحط به خبرا) “Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” Aku mengetahui bahwa kamu akan menolak apa yang kamu tidak mengetahui alasannya. Tetapi aku telah mengetahui hikmah dan kemaslahatan yang tersimpan didalamnya, sedang kamu tidak mengetahuinya. Musa berkata: (ســتجدني إن شاءالله صابراً) “Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar,” yakni atas apa yang aku saksikan dari beberapa tindakanmu. (ولا أعصي لك أمرا) “Dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan apanpun.” Maksudnya, dan aku tidak menentangmu mengenai sesuatu. Pada saat itu, Khidhir memberikan syarat kepada Musa: (فإن آتّبـعـتني فلاتسئلني عن شيئ) “Ia berkata: Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun.” Yakni, dalam taraf pertamanya. (حـتّى أحدث لك منه ذ كــرا) “Sampai aku sendiri yang menjelaskannya kepadamu.” Yakni, sehingga aku yang mulai memberikan penjelasan kepadamu sebelum kamu bertanya kepadaku.
Tafsir al-Maraghi ( Ahmad Mushtafa al-Maraghi)
Adapun penafsiran al-Marāgī surat al-Kahfi/18: 65-70 secara rinci adalah sebagai berikut: Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami. Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?” (Q.S. al-Kahfi/18: 65-66) (Depag RI, 2005: 301). Lafad ( Raḥmah) artinya di suni adalah kenabian dan lafad اًشد ْر) Ar-Rusyd atau Ar-Rasyad) dengan mendammahkan huruf Ra dan mensukunkan huruf Syin atau kedua-duanya memakai fathah artinya adalah mendapat kebaikan (al-Marāgī, 2006: 421). Dalam ayat ini menceritakan, ketika mereka menyusuri kembali tempat yang telah 66 mereka lampaui yaitu batu besar, bahwasanya di sisi batu besar itulah mereka bertemu seorang hamba Kami, yaitu Khidhir yang mengenakan baju putih. Maka Musa menyampaikan salam kepadanya. Khidhir berkata, benarkah ada kedamaian dinegeri anda? Lalu yang ditanya berkata, “Aku ini Musa”. Kemudian Khidhir berkata, “Musa dari Bani Isra‟il?” dan Musa menjawab, “ya”, lalu Musa berkata kepada Khidhir, “bolehkah aku mengikuti kamu supaya kamu mengajarkan aku sesuatu dari apa yang telah diajarkan Allah kepadamu untuk saya jadikan pedoman dalam urusanku ini, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh?”. (al-Marāgī, 2006: 424). Dia menjawab, “Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku. (Q.S. al-Kahfi/18: 67) (Depag RI, 2005: 301). Dalam ayat ini meceritakan, ketika Musa meminta ijin mengikuti Khidir untuk menuntut ilmu dengannya, kemudian Khidhir menjawab: sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sangup sabar bersamaku, wahai Musa. Karena sesungguhnya aku ini mempunyai ilmu dari Allah, yang telah Allah ajarkan kepadaku, yang tidak kamu ketahui (al-Marāgī, 2006: 424) ٛDan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (Q.S. al-Kahfi/18: 68) (). 67 Lafad (al-Iḥāṭah bi asy-Sya’i) artinya mengetahui sesuatu dengan sempurna, dan lafad( زا ًبْخ) Khubran) artinya pengetahuan (). Dalam ayat ini menjelaskan, bahwasanya Khidhir menguatkan alasan mengapa Musa tidak akan mampu bersabar. Hal ini karena bagaimana Musa dapat bersabar, padahal Musa adalah seorang Nabi yang akan menyaksikan hal-hal yang akan Khidhir lakukan, yang pada akhirnya merupakan kemungkaran, sedang hakekatnya belum diketahui. Sedangkan orang yang shaleh itu tidak akan mampu bersabar apabila menyaksikan hal seperti itu, bahkan ia akan segera mengingkarinya (). Dia (Musa) berkata, “Insya Alah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apapun.” (Q.S. al-Kahfi/18: 69) (). Ayat ini menjelaskan, bahwasanya setelah Khidhir mengutarakan alasannya, kemudian Musa berkata: “Insya-Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar dalam menyertaimu tanpa mengingkarimu, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan yang kamu perintahkan kepadaku, yang tidak betentangan dengan zahir dari perintah Allah (al-Marāgī, 2006: 425). 68 Dia berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya kepadamu.” (Q.S. al-Kahfi/18: 70). Ayat ini menceritakan, setelah Musa janji akan bersabar selama menuntut ilmu kepada Khidhir, lalu Khidhir berkata kepada Musa: apabila kamu berjalan bersamaku, janganlah kamu bertanya kepadaku tentang sesuatu yang tidak kamu setujui terhadapku. Sehingga kamu mulai menyebutkannya, lalu aku terangkan kepadamu segi kebenarannya, karena sesungguhnya aku tidak akan melakukan sesuatu kecuali yang benar dan dibolehkan, sekalipun pada lahirnya tidak diperbolehkan. Kemudian syarat dari Khidhir itu diterima oleh Musa demi memelihara kesopanan seorang murid terhadap guru ().
Tafsir Ruh al-Ma’ani (Abu al-Fadhl Syihab al-Din al-Sayyid Mahmud Affandi al-Alusi al-Baghdad )()
Dalam ayat tersebut menjelaskan sebab terjadinya pertemuan antara Musa dengan Khidir, al-Alusi mengutip sebuah hadis riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu ‘Abbas dari Ubay bin Ka’ab sebagai berikut:
ﻋﻦ أﺑﻰ اﺑﻦ ﻛﻌﺐ أﻧﮫ ﺳﻤﻊ رﺳﻮل ﷲ ﷺ ﯾﻘﻮل إن ﻣﻮﺳﻰ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم ﻗﺎم ﺧﺎطﺒﺎ ﻓﻰ ﺑﻨﻰ أﻧﺎ ﻓﻌﺘﺐ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﯿﮫ إذ ﻟﻢ ﯾﺮد اﻟﻌﻠﻢ إﻟﯿﮫ ﺳﺒﺤﺎﻧﮫ:اﺳﺮاﺋﯿﻞ ﻓﺴﺌﻞ أى اﻟﻨﺎس أﻋﻠﻢ؟ ﻓﻘﺎل ﻓﺄوﺣﻰ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ إﻟﯿﮫ إن ﻟﻲ ﻋﺒﺪ ﺑﻤﺠﻤﻊ اﻟﺒﺤﺮﯾﻦ ھﻮ أﻋﻠﻢ ﻣﻨﻚ
Suatu ketika Musa berdiri berpidato di hadapan kaumnya, yaitu Bani Israil. Lalu beliau ditanya: “Siapakah orang yang paling alim?” Jawab Musa: “Saya”. Dengan jawaban itu, Musa mendapat kecaman dari Tuhannya, sebab beliau tidak mengembalikan ilmu tadi kepada Allah. Kemudian Allah memberikan wahyu kepadanya, yang isinya: “Sesungguhnya Aku mempunyai hamba yang berada di majma’ al-Bahrain. Dia lebih pandai dari kamu. Berdasarkan hadits tersebut, maka al-Alusi menafsirkan bahwa yang dimaksud “Musa” dalam ayat tersebut adalah Musa bin Imran, seorang Nabi Bani Israil. Pendapat ini menurutnya merupakan pendapat yang shahih. Di samping itu, al-Alusi mengemukakan adanya pendapat ahli kitab, sebagian ahli hadis dan ahli sejarah yang mengatakan bahwa Musa yang disebut dalam ayat tersebut bukanlah Musa bin Imran, melainkan Musa bin Afrasim bin Yusuf, yaitu Musa yang diangkat sebagai Nabi sebelum Musa bin Imran. Hal itu didasarkan kepada alasan-alasan sebagai berikut: Tidak rasional jika seorang Nabi belajar kepada selain Nabi. Alasan ini dibantah oleh al-Alusi, bahwa Musa itu bukan belajar kepada selain nabi, akan tetapi ia belajar kepada seorang nabi juga yaitu Khidir. Jika alasan ini juga belum memuaskan mereka, dengan dalih bahwa Musa bin Imran lebih utama dari Khidir, alAlusi memberikan jawaban adalah sah-sah saja jika seorang yang derajatnya lebih utama itu belajar kepada orang yang derajatnya di bawahnya. Sebab secara logika, tidak menutup kemungkinan ilmu yang dimiliki oleh orang yang di bawah keutamaannya (al-mafdhul) ternyata tidak dimiliki oleh orang yang lebih tinggi keutamaannya (al-afdhal), sebagaimana dikatakan dalam kalam mastal: ”qad yujad fi al-mafdul ma yujadu fi al-fadil”. Terkadang ditemukan sesuatu pada orang yang berada di bawah keutamaannya sesuatu yang tidak ditemukan pada orang yang utama. Musa, setelah keluar dari Mesir bersama kaumnya ke al-Tih (gurun pasir Sinai), tidak pernah meninggalkan al-Tih dan wafat di sana. Padahal jika kisah ini berkaitan dengan Musa bin Imran tentu nabi Musa harus keluar dari al-Tih, karena kisah itu mungkin tidak terjadi di Mesir sebagai mana kesepakatan para ulama. Jika kisah tersebut berkaitan dengan Musa bin Imran, tentunya untuk beberapa hari, ia harus tidak kelihatan oleh kaumnya. Dengan demikian, tentunya orang-orang Bani Israil yang bersamanya mengetahui kisah tersebut dan akan diceritakan kepada orang lain, sebab kisah tersebut mengandung hal-hal yang aneh, namun ternyata hal itu tidak terjadi. Maka jelas bahwa kisah tersebut tidak berkaitan dengan Musa bin Imran. Alasan kedua dan ketiga juga dibantah oleh al-Alusi, bahwa Musa keluar dari al-Tih tidak dapat diterima, sebab sebenaranya kisah tersebut terjadi setelah Nabi Musa menguasai Mesir bersama Bani Israil dan beliau menetap di sana setelah hancurnya kaum Qibti. Begitu pula tidak ada kesepakatan yang menyatakan bahwa kisah tersebut tidak terjadi di Mesir. Demikian juga kepergian Musa untuk menemui Khidir terjadi secara luar biasa. Tidak diketahui oleh umatnya, dikiranya beliau pergi untuk bermunajat kepada Tuhannya. Musa tidak menceritakan kepada kaumnya mengenai hakikat kepergiannya, sebab khawatir jika diceritakan akan merendahkan derajat Musa di hadapan kaumnya, mengingat umatnya tidak semuanya paham bahwa yang demikian itu (yakni Musa berguru kepada Khidir) sebenarnya bukanlah sesuatu yang merendahkan martabat kenabian Musa. Dengan demikian, keingkaran mereka bahwa kisah itu tidak berkaitan dengan Musa Ibn Imran tidak perlu dipedulikan, sebab secara logika pun hal itu bisa terjadi, apalagi Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskannya. Adapun fata Musa (pemuda yang menemani Musa) adalah Yusya’ bin Nun bin Afrasyim bin Yusuf. Disebut fata sebab dia biasa melayani Nabi Musa. Orang-orang Arab biasa menyebut pelayannya dengan sebutan fata, sebab pelayan itu biasanya masih muda. Lalu siapakah hamba salih yang ditemui Musa? Menurut jumhur ulama, ia adalah Nabi Khidir, dan pendapat ini juga dianut oleh al-Alusi berdasar hadis shahih riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
Bagaimana pendapat al-Alusi tentang status Khidir, apakah ia seorang rasul, nabi atau yang lain? Dalam hal ini ada beberapa pendapat menurut al-Alusi: Pertama, Khidir itu seorang nabi, bukan seorang rasul. Inilah pendapat jumhur ulama, berdasarkan firman Allah yang berbunyi: ”atainahu rahmatan min ’indina? Mereka menafsirkan bahwa yang dimaksud rahmat adalah wahyu dan kenabian. Al-Alusi cenderung sependapat dengan jumhur ulama. Kedua, Khidir adalah seorang Rasul. Dalam hal ini, al-Alusit idak menyebutkan alasan mereka yang berpendapat demikian. Ketiga, Khidir adalah malaikat. Pendapat ini menurut al-Alusi dianggap gharib. Keempat, Khidir adalah seorang wali. Pendapat ini diikuti oleh Imam al-Qusyairi. Pendapat jumhur itulah yang lebih kuat, sebab beberapa alasan lain yang dikemukakan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani untuk memperkuat pendapat tersebut, yaitu: Pertama, ucapan Khidir yang disebutkan dalam al-Qur’an: ”wa ma fa’altuhu ’an amri....” memberikan isyarat bahwa yang dilakukannya itu bukan atas kehendak dirinya, melainkan atas perintah Allah (baca : wahyu). Kedua, jika ia bukan seorang nabi, bagaimana ia lebih alim dari Musa? Ketiga, jika ia bukan nabi, bagaimana mungkin Musa mau berguru kepadanya? Keempat, hadis alBukhari dan Muslim yang menjelaskan bahwa Khidir itu seorang Nabi. Lalu bagaimana dengan tempat pertemuan Musa dan Khidir? Pertemuan Musa dengan Khidir oleh al-Qur’an hanya dikatakan di Majma’ al-Bahrain.
Menurut al-Alusi, untuk menentukan di mana letak Majma’ al Bahrain harus berdasarkan riwayat yang sahih. Dalam hal ini al-Alusi mengemukakan beberapa riwayat, antara lain: Pertama, riwayat Mujahid, Qatadah dan lainnya, bahwa yang dimaksud dengan Majma’ al-Bahrain adalah laut Persi dan Romawi. Inilah pendapat yang diikuti oleh al-Alusi. Kedua, Abu Hayyan berpendapat berdasarkan pendapat Ibnu Athiyah bahwa Majma’ al-Bahrain itu berada di daerah dekat Syam. Ketiga, Muhammad bin Ka’ab al-Qurazi berpendapat bahwa Majma’ alBahrain berada di Tanjah yaitu pertemuan antara Laut Tengah dengan Laut Atlantik di Selat Gibraltar (Jabal Tariq). Mengetahui di mana Majma’ al-Bahrain bukanlah hal yang penting dalam kisah tersebut, mengingat al-Qur’an sendiri tidak menjelaskannya. Maka lebih baik hal itu di-mawquf-kan saja, apalagi tidak ditemukan hadis sahih dari Nabi yang menjelaskan hal itu. Sebenarnya, al-Alusi juga banyak menjelaskan riwayat riwayat lain, selain yang di atas tadi. Namun sighat (bentuk) riwayatnya menggunakan kata qi1a, dalam kaedah Ilmu Musthalah Hadits berarti riwayat tersebut lemah, maka tidak bisa dijadikan hujjah. Al-Alusi juga menjelaskan adanya penafsiran secara metaforis (majazi), yaitu bahwa Majma’ al-Bahrain adalah Nabi Musa dan Khidir itu sendiri, sebab keduanya merupakan lautan ilmu. Namun, menurut al-Alusi, takwil orang sufi seperti itu tidak tepat. Apalagi jika dilihat dari siyaq al-kalam (konteks kalimat). Ayat yang berbunyi hatta abluga majma’ al-bahrain berarti ”sehingga saya sampai ke tempat dua laut”. Jadi, Majma’ al-Bahrain itu sebagai objek, sedang dhamir (kata ganti) yang ada pada kata ablugha yang merujuk pada Nabi Musa sebagai fi’il (subjek). Al-Alusi sendiri menafsirkan majma’ al-bahrain dengan multaq al-bahrain yang merupakan isim makan, yaitu kata benda yang menunjukkan tempat. Selanjutnya, dalam menafsirkan ayat wa’allamnahu mil ladunna ’ilma, alAlusi menyatakan bahwa ayat tersebut merupakan dasar yang dipakai oleh para Al-Mu‘ashirah ulama untuk menetapkan adanya ilmu ladunni atau yang disebut pula dengan ilmu hakikat atau ilmu batin (esoteris) yaitu ilmu yang diberikan langsung oleh Allah, yang tidak dapat diperoleh tanpa taufiq-Nya, ilmu yang tidak diketahui secara mendalam tentang hakikatnya dan tidak dapat diukur kadarnya (ilmu gaib). Adapun cara pemberian ilmu laduni tersebut ada dua kemungkinan. Pertama dengan perantaraan wahyu yang di dengar dari malaikat sebagaimana wahyu al-Qur’an yang diterima Nabi Muhammad. Kedua, mungkin pula melalui isyarat dari malaikat, tanpa menjelaskan dengan kata-kata. Inilah yang juga disebut ilham dan malaikat yang membawanya juga disebut malaikat ilham. Ilham dapat diterima nabi dan selain nabi. Untuk mendapatkan ilham ladunni diperlukan pensucian batin (thahir al-qa1b). Oleh sebab itu, sebagian orang menyebutnya dengan ilmu batin atau ilmu hakikat. Sebagian orang sufi beranggapan bahwa ilmu batin atau ilmu hakikat itu boleh menyalahi ilmu lahir atau ilmu syariat. Dengan kata lain, orang yang telah menggapai derajat ilmu hakikat boleh menyalahi syariat dengan alasan bahwa Khidir juga telah menyalahi syariat Nabi Musa. Anggapan tersebut dibantah oleh al-Alusi. Dengan tegas al-Alusi menyatakan haza za’mun batil, ‘ati al-khayal fasidun. Ini adalah anggapan yang keliru, omong kosong, ilusi dan salah. Bantahan al-Alusi sangat tepat, sebab jika ilmu hakikat dapat menyalahi syariat dibenarkan, maka seseorang dapat saja mengaku telah mencapai tingkat hakikat sebagai alasan untuk meninggalkan syariat. Akibatnya, akan terjadi sikap anti syariat, dan klaim bahwa ia telah gugur dari kewajiban menjalankan syariat. Dalam ilmu tasawuf memang dikenal tingkatan syari’ah, thariqah dan haqiqah. Syariat yang dimaksud adalah aturan-aturan lahir yang ditentukan, misalnya seperti hukum halal haram, sunah makruh dan sebagainya. Termasuk pula amaliah seperti shalat, puasa, jihad, zakat, haji dan sebagainya. Sedang thariqah adalah jalan yang harus ditempuh oleh seorang untuk mendapatkan keridha'anNya dalam mengerjakan syariat, seperti sikap ikhlas, sabar, taubat, muraqabah dan sebagainya. Sedangkan haqiqah yaitu kebenaran sejati dan mutlak yang merupakan puncak perjalanan spiritual seseorang. Ketiga dataran (syariah, tarikat, hakikat) tersebut harus dilihat dengan paradigma struktural sekaligus fungsional, di mana satu dengan lainnya tidak boleh dipisah-pisahkan. Bermakna bahwa meskipun seseorang telah mencapai tingkatan hakikat, ia tetap terkena taklif (tugas) syariat untuk menjalankan ibadah yang diwajibkan oleh al-Qur’an dan hadis.
Berkenaan dengan Surah al-Kahfi (18): 66-70 penjelasan al- Alusi secara ringkas sebagai berikut, bahwa setelah Nabi Musa bertemu dengan Khidir, maka Musa minta izin kepada Khidir untuk mengikutinya dan minta agar Khidir mau mengajarinya. Hal ini dapat di pahami dari ayat : hal attabi’uka ’ala antu’allimani mimma ’ullimta rusyda. Ilmu yang diharapkan Musa adalah rusyd yang menurut al-Alusi berarti itsbat al-khair (ilmu yang dengannya seseorang dapat tepat dalam mengetahui kebaikan). Nabi Khidirpun mau menerima permintaan Musa dengan catatan jika nanti berada di perjalanan Musa melihat hal-hal yang aneh yang dilakukan Khidir, dia tidak boleh bertanya, sampai Khidir sendiri yang akan menjelaskannya. Nabi Khidir-pun sebenarnya sudah tahu bahwa Musa tak akan mampu menyertainya. Komentar Para Ulama terhadapTafsir Ruh al-Ma’ani dinilai oleh sebagian ulama sebagai tafsir yang bercorak isyari (tafsir yang mencoba menguak dimensi makna batin berdasar isyarat atau ilham dan takwil sufi). Imam Ali al-Sabuni sendiri juga menyatakan bahwa al-Alusi memang memberi perhatian kepada tafsir isyari, segi-segi balaghah dan bayan. Dengan apresiatif ia mengatakan bahwa tafsir al-Alusi dapat dianggap sebagai tafsir yang paling baik untuk dijadikan rujukan dalam kajian tafsir bi alriwayah, bi al-dirayah dan isyarah. Menurut al-Dzahabi dan Abu Syuhbah, tafsir Ruh al-Ma’ani merupakan kitab tafsir yang dapat menghimpun sebagian besar pendapat para mufassir dengan disertai kritik yang tajam dan pentarjih terhadap pendapat-pendapat yang beliau kutip. Kesimpulan Penjelasan yang diberikan oleh al-Alusi terbilang detil. Penjelasan di awal surah biasanya diawali dari nama surat, asbab al-nuzul, munasabah dengan surah sebelumnya, makna kata, i’rab, pendapat para ulama, dalil yang ma’tsur, makna di balik lafaz (makna isyari) dan jika pembahasannya panjang terkadang juga diberi kesimpulan. Tafsir ini digolongankan pula sebagai tafsir tahlili. Dalam penjelasannya, al Alusi memiliki kecenderungan banyak menjelaskan makna samar yang diisyaratkan oleh lafad. Kecenderungan penafsiran seperti ini dinamakan tafsir isyari atau tafsir shufi. Secara garis besar ayat 65-70 surah al-Kahfi, berisikan tentang perjalanan ilmiah Nabi Musa dengan Nabi Khidir. Al-Alusi menafsirkan bahwa yang dimaksud “Musa” dalam ayat tersebut adalah Musa bin Imran, seorang Nabi Bani Israil, dan menurutnya pendapat ini merupakan pendapat yang shahih. Dan ia menyanggah argumen ahli kitab yang tidak mengakui Musa dalam kisah al-Kahfi adalah Nabi Musa melainkan Musa bin Afrasim bin Yusuf. Secara metaforis (majazi) pertemuan antara Nabi Musa dan Nabi Khidir disebutkan sebagai Majma’ al-Bahrain, karena keduanya dianggap lautan ilmu. Akan tetapi al-Alusi tidak sependapat dengan penafsiran metaforis tersebut, ia menafsirkan majma’ al-bahrain sebagai muthlaq al-bahrain, yang menunjukkan suatu tempat. Selanjutnya, dalam menafsirkan ayat wa’allamnahu mil ladunna ’ilma. Ilmu ladunni atau dikenal dengan ilmu batin yang dipahami dari ayat tersebut merupakan ilmu yang diberikan langsung oleh Allah. Al-Alusi membantah anggapan sebagian kaum sufi yang mengatakan bahwa ilmu batin atau ilmu hakikat itu boleh menyalahi ilmu lahir atau ilmu syariat, dengan tegas alAlusi menyatakan haza za’mun batil, ‘ati al-khayal fasidun. Ini adalah anggapan yang keliru, omong kosong, ilusi dan salah. Dalam ayat: hal attabi’uka ’ala antu’allimani mimma ’ullimta rusyda.
Kandungan Ayat
Ayat (65) Dalam ayat ini Allah menceritakan bahwa setelah nabi Musa Yusa‟ menelusuri kembali jalan yang mereka lalui tadi, sampailah keduanya pada batu itu yang pernah mereka jadikan tempat beristirahat. Di sana mereka mendapatkan seorang hamba diantara hamba-hamba Allah ialah Khidhir. Dalam hal ini Allah menyebutkan bahwa Khidhir itu ialah orang yang mendapat 70 M. ()(Pesan, Kesan dan Keserasian AlQur‟an), ilmu langsung dari Allah, yang ilmu itu tidak diberikan kepada nabi Musa. Sebagaimana juga Allah telah menganugrahkan suatu ilmu kepada Nabi Musa yang tidak diberikan kepada Khidhir. Ayat (66) Dalam ayat ini Allah menggambarkan secara jelas sikap nabi Musa sebagai calon murid kepada calon gurunya dengan mengajukan permintaan berupa bentuk pertanyaan itu berarti nabi Musa sangat menjaga kesopanan dan merendahkan hati. Beliau menempatkan dirinya sebagai seorang yang bodoh dan mohon diperkenankan mengikutinya, supaya Khidhir sudi mengajarkan sebagai ilmu yang telah Allah berikan kepadanya. Sikap yang demikian memang seharusnya dimiliki oleh setiap pelajar dalam mengajukan pertanyaan pada muridnya.
Ayat (67) dalam ayat ini Khidhir menjawab pertanyaan nabi Musa sebagai berikut: “hai Musa, kamu tak akan dapat sabar dalam menyertaiku. Karena saya memiliki ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadaku yang kamu tidak mengetahuinya, dan kamu memiliki ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadamu yang aku tidak mengetahuinya. Ayat (68) Dalam ayat ini al Khidhir menegaskan kepada nabi Musa tentang sebab nabi Musa tidak akan dapat bersabar nantinya kalau terus menerus menyertainya. Di sana nabi Musa akan melihat kenyataan Khidhir yang secara lahiriah bertentangan dengan syarat dengan nabi Musa as. Oleh karena Khidhir berkta kepada nabi Musa : “bagaimana kamu dapat bersabar terhadap perbuatan-perbutan yang lahirnya menyalahi syariatmu, padahal kamu seorang nabi. Atau mungkin juga kamu akan mendapati pekerjaan-pekerjaanku yang secara lahiriah bersifat munkar, secara bathiniyyah kamu tidak mengetahui maksudnya atau kemaslahatannya. Sebenarnya memang demikian sifat orang yang tidak bersabar terhadap perbuatan munkar yang dilihatnya. Bahkan segera mengingkarinya. Ayat (69) Dalam ayat ini nabi Musa berjanji tidak akan mengingkari dan tidak akan menyalahi apa yang dikerjakan oleh nabi Khidhir, dan berjanji pula akan melaksanakan perintah nabi Khidir selama perintah itu tidak bertentangan dengan perintah Allah. Janji yang beliau ucapkan dalam ayat ini didasarkan dengan kata-kata “Insya Allah” karena beliau sadar bahwa sabar itu perkara yang santa besar dan berat, apalagi ketika menyampaikan kemungkaran, seakan-akan panas hati beliau tak tertahan lagi. Ayat (70) Dalam ayat ini Khidir dapat menerima Musa as dengan pesan “ jika kamu (nabi Musa) berjalan bersamaku (nabi Khidir) maka janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang aku lakukan dan tentang rahasianya, sehingga aku sendiri menerangkan kepadamu duduk persoalanya. Jangan kamu menegurku terhadap sesuatu yang mulai menyebutnya untuk menerangkan keadaan yang sebenarnya.
Hikmah yang dapat diambil dari ayat tersebut yaitu, kita perlu bersabar dan tidak terburu-buru mendapatkan kebijaksanaan dari setiap peristiwa yang dialami. Dan kita sebagai siswa harus memelihara adab dengan gurunya. Setiap siswa harus bersedia mendengar penjelasan seorang guru dari awal hingga akhir sebelum nantinya dapat bertindak diluar perintah dari guru. Kisah nabi Khidir ini juga menunjukkan bahwa Islam memberikan kedudukan yang sangat istimewa kepada guru. Selain itu juga satu hikmah selain sabar, yang didapatkan dari kisah tersebut yaitu ilmu itu merupakan karunia terbesar yang diberikan oleh Allah SWT. Tidak ada makhluk manapun, seorang manusia pun yang lebih berilmu dariNya. Tidak ada seorang manusia yang mengklaim bahwa dirinya lebih berilmu disbanding yang lainya. Hal ini dikarenakan ada ilmu yang merupakan anugrah dari Allah yang diberikan pada seseorang tanpa harus mempelajarinya (ilmu Ladunny, yaitu ilmu yang dikhususkan bagi hamba-hamba Allah yang shalih dan terpilih).
Manusia itu pada dasarnya sudah dianugerahi oleh Allah Swt dua buah kemampuan. Pertama,kemampuan untuk mengajarkan sesuatu kepada orang lain, walaupun pengajaran yang dilakukan manusia itu sifatnya terbatas. Kedua, kemampuan untuk menyerap pengajaran dari orang lain. Jika dihubungkan ke dalam hal Pendidikan, maka kedua kemampuan inilah yang akan menjadi kunci bagi sesuatu agar bisa disebut dengan pelaku pendidikan atau yang biasa disebut dengan Subyek pendidikan. Penghoramatan seorang peserta didik terhadap seorang pendidiknya telah dicontohkan oleh Nabi Musa as terhadap alKhidir.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan di atas dalam surah An-Nahl ayat 43-44 ada nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya yaitu bahwa dalam dunia pendidikan kita dituntut untuk berusaha mencari tahu apa yang kita pelajari, sehingga kita dapat memahami hal tersebut. Dalam surah ini menjelaskan bahwa kita diperintahkan untuk bertanya kepada orang yang lebih tahu atau lebih pintar dari diri kita, dengan demikian kita akan dapat memahami sebuah ilmu tidak hanya dengan pemahaman sepihak dari diri kira sendiri, melainkan penjelasan atau pemaparan yang kita dapatkan dari orang lain. Orang lain tersebut bisa kita jadikan sebagai guru, dan guru itulah yang berperan sebagai subjek pendidikan, karena gurulah yang akan memberi pemahaman kepada kita tentang suatu hal yang tidak kita ketahui. Subjek pendidikan adalah orang ataupun kelompok yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan, sehingga materi yang diajarkan atau yang disampaikan dapat dipahami oleh objek pendidikan. Pendidik adalah individu yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Kita dapat membedakan pendidik itu menjadi dua kategori yaitu:
Pendidik menurut kodrat, yaitu orang tua
Pendidik menurut jabatan, yaitu guru
Dalam QS. Al-Kahfi ayat 66-70 , QS. An-Nahl ayat 43-44 terdapat hubungan yang sangat erat dengan pendidikan khususnya tentang subjek pendidikan. Hal ini ditunjukan dengan pengajaran yang diberikan oleh nabi khidir kepada nabi Musa, pengajaran yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril tentang ke-tauhidan dan sebagainya. Dan Allah menyuruh Nabi Muhammad untuk menyampaikan kepada umatnya.
Saran
Pada makalah ini terdapat banyak kekurangan, baik dari segi susunan kata, penulisan, dan lain sebagainya. Maka kami sebagai penulis mohon maaf sebesar-besarnya atas kekurangan kami dan kami juga mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Semoga dengan kritik dan saran yang diberikan bisa kami jadikan pelajaran untuk memperbaiki makalah yang kami buat kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ibnu Katsir, Abul Fida Ismail. 2000. Tafsir Ibnu Katsir(Terjemah), Bandung: Sinar Baru Al-Gensindo
Al-Mahalli, Jalaluddin dan Jalaluddin As-Suyuthi. 2010. Tasik Malaya: myface-online.blogspot.com
http://muktirahma.wordpress.com/2013/05/27/tafsir-ayat-ayat-tentang-subyek-pendidikan/
Al-Alusi. Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Quran ‘Adzim wa al-Sab’i al-Matsani, juz. V.
Beirut: Ihya al-Turats al-‘Arabi,
t. th Baidan, Nashruddin. Metodologi Penafsiran al-Quran.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2000 Bakhtiar, Amsal.
Tasawuf dan Gerakan Tarekat. Bandung
Agama RI, Departemen. 2005. Mushaf Alqur‟an Terjemah. Jakarta: al-Huda
Al Qurthubi, Imam. 2008. Tafsir Al Qurthubi. Jakarta : Pustaka Azzam
Muhammad, Jalaluddin, Jalaluddin Abdirrahman. Tanpa Tahun. Tafsir Jalalain. Terjemahan oleh Najib Junaidi. 2011. Surabaya: Pustaka Elba.
Murthasi’ah, Zulis. 2005: Nilai-Nilai Pendidikan islam dalam Surat An-Nahl Ayat 43-44 dan Imlikasinya dalam Pendidikan islam. Semarang: Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Walisongo.
Angkasa, 2003 Al-Bukhari. Al-Jami’ al-Shahih.
Madinah: Markaz Khadim al-Sunnah wa alSirah,
t. th Al-Dzahabi. Al-Tafsir wa al-Mufassirun.
Egypt: Dar al-Hadits,
t. th Al-Qattan, Manna’ Khalil. Studi Ilmu-ilmu Qur’an, pent: Drs. Muzakir.
Bogor: Litera Antarnusa dan Pustaka Ilmiyah, 2000 Al-Shiddiqy,
Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Quran. Jakarta: Bulan Bintang, 1974
Tidak ada komentar:
Posting Komentar