Minggu, 03 Mei 2020

Makalah tafsir tarbawi surat attaubat ayat 122 dan surat an nisa ayat 170


KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirahim, puji syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah pada mata kuliah Tafsir Tarbawi ini dengan baik. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat serta pengikutnya. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang tafsir beberapa ayat al-Quran. Dengan terselesaikanya tugas ini kami mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Hamidatun Nihayah, M.Th. I selaku dosen pengampu MK Tafsir Tarbawi
2. Orang tua yang telah membiayai dan memberikan dukungan serta semangat kepada kami.
3. Teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Sebagai manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya dan kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan dimasa depan. Semoga bermanfaat bagi pembaca dan penulis khususnya.



                                                                                         Bojonegoro, 7 Februari 2020


                                                                                                      Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan 1
BAB II PEMBAHASAN 2
2.1 Lafadz dan Terjemah Surat At Taubah Ayat 122 2
2.2 Arti Surat At Taubah Ayat 122 Perkata Bahasa Indonesia 2
2.3 Kandungan Surat At Taubah Ayat 122 3
2.4 Penafsiran Surat At Taubah Ayat 122 3
2.4.1 Tafsir Jalalain 3
2.4.2 Tafsir Al Mishbah 3
2.4.3 Tafsir Muyassar 4
2.4.4 Tafsir Ibnu Katsir 4
2.5 Lafadz dan Terjemah Surat An Nisa’ Ayat 170 6
2.6 Arti Surat An Nisa’ Ayat 170 Perkata Bahasa Indonesia 6
2.7 Kandungan Surat An Nisa’ Ayat 170 7
2.8 Penafsiran Surat At Taubah Ayat 122 8
2.8.1 Tafsir Jalalain 8
2.8.2 Tafsir Al Mishbah 8
2.8.3 Tafsir Muyassar 8
2.8.4 Tafsir Ibnu Katsir 9
BAB III 10
PENUTUP 10
3.1 Kesimpulan 10
3.2 Saran 10
DAFTAR PUSTAKA 11


BAB I
PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang
Al-Qur’an adalah wahyu Tuhan dengan kebenaran mutlak yang menjadi sumber ajaran Islam. Al-Qur’an adalah kitab suci bagi umat Islam yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Ia berfungsi untuk  memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia, baik secara pribadi maupun kelompok. Al-Qur’an merupakan sumber keamanan, motivasi, dan inspirasi, sumber dari segala sumber hukum yang tidak pernah kering bagi yang mengimaninya.
Jika demikian itu halnya, maka pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an melalui penafsiran-penafsiran, memiliki peranan sangat besar bagi umat. Dalam makalah ini akan dibahas tentang tafsir Surat At Taubah ayat 122 yang bertemakan jihad dan tafsir Surat An Nisa’ ayat 170 tentang kebenaran dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang diatas, dapat dituliskan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana lafadz dan terjemah Surat At Taubah ayat 122?
2. Apa kandungan Surat At Taubah ayat 122?
3. Bagaimana penafsiran Surat At Taubah ayat 122?
4. Bagaimana lafadz dan terjemah Surat An Nisa’ ayat 170?
5. Apa kandungan Surat An Nisa’ ayat 170?
6. Bagaiamana penafsiran Surat An Nisa’ ayat 170?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui lafadz dan terjemah Surat At Taubah ayat 122?.
2. Untuk mengetahui kandungan Surat At Taubah ayat 122?.
3. Untuk mengetahui penafsiran Surat At Taubah ayat 122?.
4. Untuk mengetahui lafadz dan terjemah Surat An Nisa’ ayat 170.
5. Untuk mengetahui kandungan Surat An Nisa’ ayat 170.
6. Untuk mengetahui penafsiran Surat An Nisa’ ayat 170.

BAB II
PEMBAHASAN



2.1 Lafadz dan Terjemah Surat At Taubah Ayat 122

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْـفِـرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْـهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَـَّـهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَـحْذَرُونَ
Artinya:
“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”
2.2 Arti Surat At Taubah Ayat 122 Perkata Bahasa Indonesia
ٱلْمُؤْمِنُونَ كَانَ وَمَا
orang-orang mukmin ada/patut dan tidak
فَلَوْلَا كَآفَّــةً لِـيَنفِرُوا۟
maka mengapa tidak seluruhnya/semuanya untuk mereka pergi
كُلِّ مِنْ نَـفَرَ
Setiap dari keluar/pergi
طَآئِــــفَةٌ مِّنـْهُمْ فِـرْقَةٍ
kelompok/beberapa orang diantara mereka golongan
ٱلدِّينِ فِى لِّيَتَـفَـقـَّـهُوا۟
agama didalam/tentang untuk mereka memperdalam
إِذَا قَوْمَهُـمْ وَلِـيُنذِرُوا۟
apabila kaumnya dan untuk memperingatkan
لَعَلَّـهُمْ إِلَيْهِـمْ رَجَعُـوٓا۟
supaya mereka kepada mereka mereka kembali
  يَـحْذَرُونَ
  mereka menjaga diri/hati-hati


2.3 Kandungan Surat At Taubah Ayat 122
Berikut ini adalah isi kandungan Surat At Taubah Ayat 122  :
1. Bagaimana seharusnya tugas-tugas dibagi sehingga tidak semua mengerjakan satu jenis pekerjaan saja.
2. Pentingnya memperdalam ilmu dan menyebarluaskannya.
3. Jihad itu tidak hanya difahami dengan mengangkat senjata, tetapi memperdalam ilmu pengetahuan dan menyebarluaskannya juga termasuk kedalam jihad.
2.4 Penafsiran Surat At Taubah Ayat 122
2.4.1 Tafsir Jalalain
Tatkala kaum Mukminin dicela oleh Allah bila tidak ikut ke medan perang kemudian Nabi mengirimkan sariyahnya, akhirnya mereka berangkat ke medan perang semua tanpa ada seorang pun yang tinggal, maka turunlah firman Allah Surat At Taubah Ayat 122. Sehubungan dengan ayat tersebut Ibnu Abbas r.a. memberikan penakwilannya bahwa ayat ini penerapannya hanya khusus untuk sariyah-sariyah, yakni bilamana pasukan itu dalam bentuk sariyah lantaran Nabi tidak ikut.
Sedangkan ayat sebelumnya yang juga melarang seseorang tetap tinggal di tempatnya dan tidak ikut berangkat ke medan perang, maka hal ini pengertiannya tertuju kepada bila Nabi berangkat ke suatu ghazwah.

2.4.2 Tafsir Al Mishbah
Ayat ini menuntun kaum muslimin untuk membagi tugas dengan menegaskan bahwa Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin yang selama ini dianjurkan agar bergegas menuju medan perang pergi semua ke medan perang sehingga tidak tersisa lagi yang melaksanakan tugas-tugas yang lain. Jika memang tidak ada panggilan yang bersifat mobolisasi umum maka mengapa tidak pergi dari setiap golongan, yakni kelompok besar dia natara mereka beberapa orang dari golongan itu untuk bersungguh-sungguh memperdalam pengetahuan tentang agama  sehingga mereka dapat memperoleh manfaat untuk diri mereka dan untuk orang lain dan juga  untuk memberi peringatan kepada kaum mereka yang menjadi anggota pasukan yang ditugaskan Rasul saw itu apabila nanti setelah selesainya tugas, mereka, yakni anggota pasukan itu telah kembali kepada mereka yang memperdalam pengetahuan itu, supaya mereka yang jauh dari Rasul saw karena tugasnya dapat berhati-hati dan menjaga diri mereka.
Tujuan utama ayat ini adalah menggambarkan bagaimana seharusnya tugas-tugas dibagi sehingga tidak semua mengerjakan satu jenis pekerjaan saja. Ayat ini menggarisbawahi pentingnya memperdalam ilmu dan menyebarluaskan informasi yang benar. Ia tidak kurang penting dari upaya mempertahankan wilayah. Bahkan, pertahanan wilayah erat dengan kemampuan informasi serta kehandalan ilmu pengetahuan atau sumber daya manusia.
Yang dimaksud dengan orang yang memperdalam pengetahuan demikian juga yang memberi peringatan adalah mereka yang tinggal bersama Rasul saw. Dan tidak mendapat tugas sebagai anggota pasukan, sedang mereka yang diberi peringatan adalah anggota pasukan yang keluar melaksanakan tugas yang dibebankan Rasul saw. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.[7]

2.4.3 Tafsir Muyassar
Tidaklah pantas bagi orang-orang mukmin untuk pergi semuanya berperang melawan musuh-musuh mereka, sebagaimana tidak pantas untuk berdiam diri semuanya. Mengapa tidak pergi berperang dan berjihad dari tiap-tiap golongan itu beberapa orang yang mencukupi dan tercapai maksud untuk itu, agar orang-orang yang tidak ikut berperang dapat memperdalam agama dan mempelajari hukum-hukum tentang agama Allah dan apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya, juga agar mereka dapat memperingatkan kaumnya dengan apa yang diketahuinya sekembalinya mereka dari medan perang, agar mereka menjaga diri dari azab Allah dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

2.4.4 Tafsir Ibnu Katsir
Hal ini merupakan penjelasan dari Allah Swt. mengenai apa yang dikehendaki-Nya, yaitu berkenaan dengan keberangkatan semua kabilah bersama Rasulullah Saw. ke medan Tabuk. Segolongan ulama Salaf ada yang berpendapat bahwa setiap muslim diwajibkan berangkat dengan Rasulullah Saw. apabila beliau keluar (berangkat ke medan perang). Untuk itulah dalam firman yang lain disebutkan;
Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat.
Kemudian dalam ayat berikutnya disebutkan oleh firman-Nya;
Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka. (At Taubah;120), hingga akhir ayat. Selanjutnya ayat-ayat di atas di-mansukh oleh ayat ini (At Taubah;122).

Dapat pula ditakwilkan bahwa ayat ini merupakan penjelasan dari apa yang dimaksud oleh Allah Swt. sehubungan dengan keberangkatan semua kabilah, dan sejumlah kecil dari tiap-tiap kabilah apabila mereka tidak keluar semuanya (boleh tidak berangkat). Dimaksudkan agar mereka yang berangkat bersama Rasul Saw. memperdalam agamanya melalui wahyu-wahyu yang diturunkan kepada Rasul. Selanjutnya apabila mereka kembali kepada kaumnya memberikan peringatan kepada kaumnya tentang segala sesuatu yang menyangkut musuh mereka (agar mereka waspada). Dengan demikian, maka golongan yang tertentu ini memikul dua tugas sekaligus. Tetapi sesudah masa Nabi Saw., maka tugas mereka yang berangkat dari kabilah-kabilah itu tiada lain adakala­nya untuk belajar agama atau untuk berjihad, karena sesungguhnya hal tersebut fardu kifayah bagi mereka. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas se­hubungan dengan firman-Nya;

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang).
Yakni tidaklah sepatutnya orang-orang mukmin berangkat semuanya ke medan perang dan meninggalkan Nabi Saw. sendirian. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang. (At Taubah;122) Yaitu suatu golongan. Makna yang dimaksud ialah sepasukan Sariyyah (pasukan khusus) yang mereka tidak berangkat kecuali dengan seizin Nabi Saw. Apabila pasukan Sariyyah itu kembali kepada kaumnya, sedangkan setelah keberangkatan mereka diturunkan ayat-ayat Al-Qur'an yang telah dipelajari oleh mereka yang tinggal bersama Nabi Saw. Maka mereka yang bersama Nabi Saw. akan mengatakan kepada Sariyyah, "Sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat-ayat Al-Qur'an kepada Nabi kalian dan telah kami pelajari."
Selanjutnya Sariyyah itu tinggal untuk mempelajari apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada Nabi mereka, sesudah keberangkatan mereka, dan Nabi pun mengirimkan Sariyyah lainnya. Yang demikian itulah pengertian firman Allah Swt.;
...untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.
Yakni agar mereka mempelajari apa yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi mereka. Selanjutnya mereka akan mengajarkannya kepada Sariyyah apabila telah kembali kepada mereka. Supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At Taubah;122).
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa segolongan orang dari tiap-tiap kabilah Arab Badui berangkat meninggalkan daerahnya, lalu menghadap Nabi Saw. Mereka menanyakan kepada Nabi Saw. banyak hal yang mereka kehendaki menyangkut urusan agama mereka. Dengan demikian, mereka memperdalam pengetahuan agamanya. Dan mereka bertanya kepada Nabi Saw., "Apakah yang akan engkau perintahkan kepada kami untuk mengerjakannya? Dan perintahkanlah kepada kami apa yang harus kami lakukan kepada keluarga dan kaum kami apabila kami kembali kepada mereka!" Maka Nabi Saw. memerintahkan kepada mereka untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi Saw. juga mengutus mereka kepada kaumnya untuk menyeru mereka agar mendirikan salat dan menunaikan zakat. Dan tersebutlah bahwa apabila mereka telah kembali kepada kaumnya, maka mereka mengatakan, "Barang siapa yang mau masuk Islam, sesungguhnya dia termasuk golongan kami." Lalu mereka memberikan peringatan kepada kaumnya, sehingga seseorang (dari kaumnya) yang masuk Islam benar-benar rela berpisah dari ayah dan ibunya (yang tidak mau masuk) Islam.
Sebelum itu Nabi Saw. telah berpesan dan memperingatkan mereka akan kaumnya, bahwa apabila mereka kembali kepada kaumnya, hendaklah mereka menyeru kaumnya untuk masuk Islam dan mem­peringatkan kaumnya akan neraka serta menyampaikan berita gembira kepada mereka akan surga (bila mereka mau masuk Islam). Ikrimah mengatakan ketika ayat berikut diturunkan, yaitu firman Allah Swt.; Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksa yang pedih. (At Taubah;39) Dan firman Allah Swt.; Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah. (At Taubah;120), hingga akhir ayat. Orang-orang munafik mengatakan, "Binasalah orang-orang Badui yang tidak ikut berperang dengan Muhammad dan tidak ikut berangkat bersamanya." Dikatakan demikian karena ada sejumlah sahabat Nabi Saw. yang pergi ke daerah pedalaman, pulang kepada kaumnya masing-masing dalam rangka memperdalam pegetahuan agama buat kaumnya. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya; Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). (At Taubah;122), hingga akhir ayat.
2.5 Lafadz dan Terjemah Surat An Nisa’ Ayat 170

یٰـۤاَیُّـہَا النَّاسُ قَدۡ جَآءَکُمُ الرَّسُوۡلُ بِالۡحَقِّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ فَاٰمِنُوۡا خَیۡرًا لَّکُمۡ ؕ وَ اِنۡ تَکۡفُرُوۡا فَاِنَّ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَکَانَ اللّٰہُ عَلِیۡمًا حَکِیۡمًا
Artinya :
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
2.6 Arti Surat An Nisa’ Ayat 170 Perkata Bahasa Indonesia
قَدۡ النَّاسُ یٰـۤاَیُّـہَا
Sesungguhnya Manusia Wahai
بِالۡحَقِّ الرَّسُوۡلُ جَآءَکُـمُ
Dengan kebenaran
kebenaran Rasul telah datang kepadamu
kepadamu
فَاٰمِنُوۡا رَّبِّکُـمۡ مِنۡ
maka berimanlah kamu Tuhanmu Dari
وَ اِنۡ لَّکُـمْ خَیۡرًا
Dan jika Bagimu lebih baik
لِلّٰہِ فَاِنَّ تَکۡفُرُوۡا
Kepunyaan Allah Maka sesungguhnya Kamu kafir
السَّمٰوٰتِ فِی مَا
langit Di Segala sesuatu
اللّٰہُ وَکَانَ وَ الۡاَرۡضِ
Allah Dan adapun Dan bumi
 حَکِیۡمًا عَلِیۡمًا
 Maha Bijaksana Maha Mengetahui

2.7 Kandungan Surat An Nisa’ Ayat 170
Dalam surat An-Nisa ayat 170 menerangkan bahwa Allah SWT, memerintahkan seluruh manusia agar beriman kepada Rasul-Nya, Allah SWT menyebutkan sebab diharuskannya beriman kepadanya dan manfaat dari beriman kepadanya, serta kemudharatan yang akan didapatkan apabila tidak beriman kepadanya, adapun sebab yang mengharuskan untuk beriman adalah kabar Allah bahwa ia datang kepada mereka dengan membawa kebenaran. Artinya, kedatangan berupa syariat itu sendiri adalah suatu kebenaran dan apa yang dibawanya berupa syariat adalah kebenaran. Seorang yang berakal akan mengetahui bahwa tetapnya orang dalam kejahilan mereka bingung dalam kekufuran mereka terus didera kebimbangan, dan risalah telah terputus dari mereka dan tidak sesuai dengan hikmah Allah dan Rahmat-Nya.
Diantara hikmah dan rahmatnya yang Agung mengutus Rasul kepada mereka agar mengajarkan kepada mereka petunjuk dari kesesatan, dan menyimpang dari jalan lurus, maka dengan hanya memandang pada kerasulannya itu adalah sebuah dalil yang kuat akan kebenaran kenabiannya. Kehadirat Rasul yang dinyatakan datang kepada mereka, serta pernyataan bahwa yang beliau bawa adalah tuntutan dari Tuhan pembimbing dan pemelihara mereka dimaksudkan sebagai rangsangan kepada mitra bicara (mereka) agar menerima apa yang dibawanya karena jika sesuatu datang menemui seseorang dan membawa sesuatu kepadanya, maka ini menunjukkan perhatian kepada mereka, sekaligus menjadi sangat wajar, bahkan wajib bagi yang didatangi untuk menyambutnya dengan gembira.
Dan kalau kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak membutuhkan iman-mu dan Allah Maha Kuasa dalam memberi balasan atas akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kekafiran dan perbuatanmu yang buruk, karena Allah mempunyai apa saja yang ada dilangit dan dibumi. Dan adalah keadaan Allah itu Maha Tahu dengan ilmu-Nya yang meliputi, dan Maha Bijaksana dengan kebijaksanaan yang sempurna dalam segala perbuatan dan hukum-hukumnya. Bagin-Nya, perkara kaum beriman, kafir atau seluruh keadaan yang lain bahwa dia memberimu batasan atas dosa-dosa dan kemaksiatan yang kamu lakukan, karena Allah menciptakan kamu ini tidaklah sia-sia, dan takkan membiarkannya begitu saja.
Dalam ayat ini juga diperintahkan kepada segala kebaikan, keshalihan, kematangan, keadilan, berbuat baik, kejujuran, berbakti, silaturahmi, dan akhlak yang terpuji, dan juga berupa larangan dari kejahatan, kerusakan, kezhaliman, melampaui batas, akhlak yang jelek, berdusta dan durhaka, yang secara pasti dan sangat meyakinkan bahwa datangnya dari Allah dan setiap kali ilmu seseorang hamba bertambah karenanya, akan bertambah pula keimanan dan keyakinannya. Maka inilah sebab yang mendorong kepada keimanan.Ayat ini adalah seruan untuk seluruh manusia tanpa pandang agama, suku, ras, warna kulit dan bangsa.


2.8 Penafsiran Surat At Taubah Ayat 122
2.8.1 Tafsir Jalalain
(Hai manusia) maksudnya warga Mekah
(sesungguhnya telah datang kepadamu rasul) yakni Muhammad
(membawa kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu) kepadanya
(dan usahakanlah yang terbaik bagi kamu) dari apa yang melingkungimu
(Dan jika kamu kafir) kepadanya
(maka bagi-Nya apa yang di langit dan yang di bumi) baik sebagai milik maupun sebagai makhluk dan hamba hingga tidaklah merugikan kepada-Nya kekafiranmu itu
(Dan Allah Maha Mengetahui) terhadap makhluk-Nya
(lagi Maha Bijaksana) mengenai perbuatan-Nya terhadap mereka.
2.8.2 Tafsir Al Mishbah
Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah (Muhammad) membawa agama yang benar dari sisi Tuhan kalian. Maka, percayailah ajaran yang dibawanya, karena hal itu lebih baik bagi kalian. Jika kalian menolak ajarannya dan lebih memilih kekufuran, maka Allah sebenarnya tidak membutuhkan keimanan kalian, karena Dia adalah penguasa kalian. Segala apa yang ada di langit dan bumi adalah hak-Nya: hak milik, hak cipta dan hak pakai. Dialah yang Maha Mengetahui semua makhluk-Nya lagi Mahabijaksana dalam berbuat. Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik dan tidak akan melalaikan balasan orang-orang yang berbuat jahat.
2.8.3 Tafsir Muyassar
Wahai manusia, telah datang kepada kalian utusan Kami Muhammad dengan membawa Islam sebagai agama yang benar dari Rabb kalian, maka benarkanlah dia dan berimanlah kepadanya, karena beriman kepadanya adalah lebih baik bagi kalian. Namun bila kalian tetap bersikukuh diatas kekufuran kalian, maka sesungguhnya Allah tidak membutuhkan kalian dan iman kalian, karena Dia adalah pemilik apa yang ada di langit dan dibumi.
Allah Maha Mengetahui kata-kata dan perbuatan-perbuatan kalian, Maha Bijaksana dalam peletakan syariat dan perintah-Nya. Bila langit dan bumi telah tunduk kepada Allah secara kauniyah qadariyah sama dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain, maka kalian lebih patut untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad dan Alquran yang Dia turunkan kepadanya. Dan hendaknya kalian patuh kepada semua itu secara syar i sehingga seluruh alam raya ini tunduk kepada-Nya secara syar’i dan qadari. Ayat ini merupakan dalil keumuman nubuwah dan risalah Muhammad.

2.8.4 Tafsir Ibnu Katsir
Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepada kalian dengan (membawa) kebenaran dari Tuhan ka­lian, maka berimanlah kalian, itulah yang lebih baik bagi kalian.
Telah datang Nabi Muhammad kepada kalian dengan membawa hidayah, agama yang hak, dan keterangan yang memuaskan dari Allah subhanahu wa ta’ala Karena itu, berimanlah kalian kepada apa yang didatang­kannya kepada kalian dan ikutilah dia, niscaya hal itu baik bagi kali­an.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman:
Dan jika kalian kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan sedi­kit pun kepada Allah), karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah.
(QS. An-Nisa’ [4]: 170)
Dengan kata lain, Dia tidak memerlukan kalian dan iman kalian, dan Dia tidak terkena mudarat karena kekafiran kalian. Perihalnya sama dengan makna ayat lain, yaitu firman-Nya:
Dan Musa berkata,
“Jika kalian dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya kafir, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.
(QS. Ibrahim [14]: 8)
Dalam firman selanjutnya disebutkan:
Dan adalah Allah Maha Mengetahui.
Yaitu terhadap orang yang berhak memperoleh hidayah dari kalian, maka Dia memberinya hidayah, dan terhadap orang yang berhak mendapat kesesatan, lalu Dia menyesatkannya.
lagi Mahabijaksana.

(QS. An-Nisa’ [4]: 170)
Yaitu dalam semua ucapan, perbuatan, syariat dan takdir-Nya.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Setelah kita mempelajari uraian pembahasan tafsir diatas maka dapat disimpulkan bahwa objek pendidikan dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 170 terdiri dari berbagai prinsip tentang perintah kepada segala kebaikan, keadilan, berbuat baik, kejujuran, berbakti,akhlak yang terpuji, dan juga berupa larangan dari kejahatan, kerusakan, kezhaliman, melampaui batas, akhlak yang jelek, berdusta dan durhaka, yang secara pasti dan sangat meyakinkan bahwa datangnya dari Allah dan setiap kali ilmu seseorang hamba bertambah karenanya, akan bertambah pula keimanan dan keyakinannya.
Serta surat ini berkaitan dengan surat Al-Taubah ayat 122 yang mana memerintahkan untuk mencari ilmu pengetahuan berperang membela agama Allah hukumnya adalah fardhu kifayah, menuntut ilmu-ilmu untuk memperdalam masalah agama khususnya, wajib bagi umat Islam. Selain itu, setiap umat Islam dituntut untuk memiliki pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan derajat kita sebagai makhluk Allah yang paling mulia.
3.2 Saran
  Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan-kesalahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan pembaca dapat menyampaikan kritik dan juga saran terhadap hal penulisan makalah kami.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Mahalli, Jalaluddin, Jalaluddin as-Suyuthi, Terjemah Tafsir Jalalain (pdf)

Al-Sheikh, DR. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta : Pustaka Imam Syafi'i, 2005 (pdf)

Al-Sheikh, Sholeh bin Abdulaziz bin Muhammad, Tafsir Muyassir, Madinah : 2013 (pdf)
Shihab, Muhammad Qurais, Tafsir Al-Misbah, (pdf)
https://tafsirweb.com/3138-quran-Surat-at-taubah-ayat-122.html
https://tafsirweb.com/1702-quran-surat-an-nisa-ayat-170.html

https://sholihfikr.blogspot.com/2017/11/isi-kandungan-qs-at-taubah-ayat-122.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Teori Perkembangan Manusia

KATA PENGANTAR  Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam yang tela...